Father (아버지)


Tittle : Father (아버지)

Author : Cyndefirst

Cast : Yourself

Lenght : One Shoot

Genre : Family, Fluff

Note : FF ini bisa dibuat karena aku terinspirasi sama lagunya BtoB yang Father.. Dan akhirnya lahirlah FF ini.. Bangga bgt bisa publish FF ini gx tw knpa.. eehehe.. dan satu lagi pesenku, kalo baca FF ini sambil dengerin lagunya BtoB yang Father yaa… biar mantaab.. Ok! Silahkan membaca…. ^^ Hope you like it.. #maaf kalo kurang fluff

______________

Matahari sedang gagahnya menerangi teriknya siang ini. Terdengar decitan permainan dan jeritan anak – anak kecil yang sedang bermain di taman bermain tempatku berada saat ini. Para orangtua terlihat saling bercengkerama satu sama lain. Seorang anak tiba – tiba dengan usilnya menjambak rambut temannya hingga menangis. Aku tersenyum tipis meihatnya, lalu ayah dari anak yang dijambak menghampiri dan memeluk sayang anaknya. Anak itu yang tadinya menangis kembali tenang dan ayahnya menggendongnya pergi dari tempat itu. Kutatap terus sepasang ayah anak tersebut hingga menghilang dengan mobil mereka.

Muncul suatu perasaan yang aku sendiri tak tau apa namanya. Kulihat sepasang ayah dan anak berlalu dihadapanku. Si ayah tersenyum melihat anaknya bahagia saat memegang erat sebuah balon ditangan mungilnya. Tiba – tiba terdengar suara balon meletus dari kejauhan. Cepat – cepat kucari darimana asal suara itu berasal. Tak lama kemudian terdengar suara nyaring tangisan anak kecil. Taulah aku bahwa suara balon yang meletus tadi adalah milik anak kecil yang beberapa menit yang lalu lewat dihadapanku.

Raut wajah sang ayah yang tadi tersenyum berubah khawatir, ia segera merengkuh anaknya kedalam pelukannya supaya tak lagi menangis. Saat sang anak kembali tenang mereka kembali berjalan dengan tangan bertaut. Sebuah bulir air mata muncul dari pojok mataku. Cepat – cepat kuhapus air mataku tapi semakin kuhapus semakin deras air mataku jatuh. Sebuah sosok seorang pria muncul dalam pikiranku. Matanya sayu karena kurang tidur. Urat – urat dikulitnya terlihat jelas dipermukaan. Peluh mengalir dari dahinya.

Muncul bayangan lain dalam pikiranku, terlihat sosok seorang pria yang sama sedang berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan infus menancap ditangan kirinya. Seorang dokter dan 3 orang suster sedang sibuk mengurusi orang itu. Dan aku melihat sosok ibuku menangis disebelah ranjang. Aku tertegun. Pikiran apa ini? Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengenyahkan bayangan ini.

Tiba – tiba semua ingatanku tentang orang itu membanjiri pikiranku. Sosok yang sempat kulupakan selama bertahun – tahun. Aku ingat saat pertama kali aku belajar sepeda dan dia yang mengajariku. Ia yang menyemangatiku saat aku terjatuh. Aku teringat saat ia memarahiku saat aku menghabiskan seluruh permen yang ada ditoples. Aku tersenyum tipis saat teringat masa – masa indah yang kujalani dengannya. Ayah.

Sebuah rasa penyesalan terasa benar didalam hatiku. Mengapa aku dapat memutuskan sebuah keputusan yang salah. Melupakan sosok seorang ayah yang sangat kusayangi. Kembali teringat alasan mengapa aku memutuskan untuk melupakannya. Karena tidak ada lagi yang mengajakku ketaman bermain lagi. Hanya sebuah pemikiran sederhana yang membuatku melupakannya. Maafkan aku Tuhan jika aku pernah melupakan sosok seorang ayah dalam hidupku hanya karena sebuah alasan sederhana seorang anak kecil. Maafkan aku Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: