Dead March


deadmarch

original fanfiction by MONGGU

—-O—-

BaekYeol // G // Oneshoot

{ Hari ulang tahun dan setangkai bunga }

—-O—-

Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari kau terbangun dalam keadaan terbujur kaku diatas ranjang rumah sakit? Kau ingin minta tolong, tapi tidak ada siapapun. Kau ingin menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Yang bisa kau lakukan hanya menggerakkan jari dan menggulirkan matamu. Apa yang akan kau lakukan?

Byun Baekhyun berada dalam situasi serupa, dan dia memilih untuk diam.

Sudah terpaut satu jam sejak dia tersadar dari tidur panjangnya, dan tahu-tahu saja terperangkap dalam ruangan serba putih. Awalnya dia terkejut—ada baru rumah sakit yang khas, menyeruak masuk hidungnya. Kepalanya pening dan otot-otot badannya berdenyut ngilu, membuatnya panik dalam sekejap. Lantas pikirannya kembali ke masa lalu, menerka-nerka apa gerangan yang membawanya ke tempat macam ini. Yang bisa dia ingat hanyalah suara klakson, dan sebuah truk yang tiba-tiba menerjangnya ketika dia dan kekasihnya tengah memicu motor dengan cep—ah, itu.

Kecelakaan.

Kemungkinan besar—kecelakaan—walaupun dia tidak ingat betul apa yang terjadi. Otaknya masih berkabut. Bahkan, saat baru bangun tadi, dia nyaris lupa siapa namanya.

    “Baekhyun?”

Itu namanya. Kepalanya spontan menoleh ketika sebuah suara memanggilnya. Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali, balas menatap seorang lelaki jangkung yang berdiri di ambang pintu. Entah mengapa bibirnya tersenyum. Dia mengabaikan pikirannya soal kecelakaan yang menyeretnya kesini, yang dia mau sekarang hanyalah turun dari ranjang dan mendekap orang itu erat-erat. Sayang, tubuhnya menolak untuk bergerak.

    “Chanyeol,” sahutnya lirih. Awalnya Baekhyun berniat untuk terdengar antusias. Gagal.

Baekhyun ingin meraih Chanyeol—kekasihnya—lalu membenamkan kepala dalam-dalam di dadanya, memberi tahunya bahwa dia sangat ketakutan saat ini. Takut kehilangan, takut segalanya. Dan dia tidak perlu memohon dua kali, karena Chanyeol sudah berjingkat mendekatinya saat itu juga.

    “Baekhyun,” panggilnya lagi. Chanyeol mengusap kepala lelaki kecil yang terbaring disana, kelewat pelan—seolah dia adalah barang pecah belah. Manik Chanyeol terlihat lelah dan sayu, Baekhyun bahkan bisa melihat lebam samar di bawah matanya.

    “Chanyeol, kau tidak apa-apa?“

    “Kita tidak apa-apa.” Chanyeol mengedikkan pundaknya kikuk. “Tapi motornya hancur.”

    “Siapa yang peduli dengan motor,” cibir Baekhyun. Dia meraih lengan Chanyeol yang mengusapnya, lalu menggenggamnya erat-erat. Chanyeol jauh lebih berharga dari barang apapun di dunia ini. Dia lebih memilih kehilangan segalanya ketimbang harus melepas Chanyeol dari kehidupannya.

    “Aku pikir aku nyaris mati,” lanjut Baekhyun sambil berbisik. Chanyeol membalasnya  dengan segaris senyum hangat, lalu kembali mengusap kepalanya.

Chanyeol mengerutkan dahi, senada dengan gurit sedih yang membingkai wajahnya. “Maaf hari ulang tahunmu jadi berantakan begini.” Dia mengerutkan kening lebih dalam, seolah tengah berada dalam penyesalan yang amat besar.

Tiba-tiba saja Baekhyun ingat semuanya. Kepalanya dipenuhi memori semu. Hari itu tanggal 6 Mei—hari ulang tahunnya—ketika Chanyeol berdiri di depan rumahnya dengan sebuah buket mawar besar dan motor hitam tua kesayangannya. Dia berkata akan membawa Baekhyun ke suatu tempat, hingga akhirnya mereka menaiki motor berdua dan terjadilah tragedi itu.

    “Kita bisa merayakannya nanti!” Baekhyun mengumbar senyum lebar. Dia tidak mau Chanyeol jadi murung begini hanya gegara ulang tahunnya. Chanyeol balas tersenyum sambil mengangguk. Itu saja cukup untuk membuat Baekhyun bernapas lega.

    “Kalau begitu ayo kita keluar.”

Baekhyun mengangkat kedua alisnya. “Apa?”

    “Ayo kita keluar,” ulang Chanyeol, kali ini sembari menarik kedua lengan Baekhyun hingga dia terduduk. Sementara yang bersangkutan hanya menatapnya dengan bingung.

    “Tapi Chanyeol, aku masih diraw—“

    “Sebentar saja, Baekhyun.” Chanyeol memotongnya dengan pelan.

Baekhyun menghela napas panjang, tapi dia menurut pada akhirnya. Dengan bantuan Chanyeol, kakinya menuruni ranjang pelan-pelan. Tubuhnya terasa rapuh dan lemas, jika bukan karena Chanyeol yang merangkulnya, mungkin dia sudah jatuh.

    “Mau kemana?” Baekhyun menoleh pada Chanyeol ketika mereka tiba di halaman luar rumah sakit. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, dan rupanya tidak ada siapapun yang peduli. Padahal biasanya orang lain akan melihat mereka dengan skeptis.

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Baekhyun barusan. Dia berlari ke arah rerumputan tinggi yang memenuhi pelataran itu, mengambil sesuatu, lalu kembali pada Baekhyun dengan wajah berseri-seri. Baekhyun menatap benda yang di genggam oleh Chanyeol, lalu tersenyum.

Setangkai bunga.

    “Selamat ulang tahun!” Chanyeol berlutut seperti seorang pangeran, lalu menyodorkan bunga itu kedepan kekasih kecilnya.

    “Astaga…” Baekhyun meraih sang bunga dan tertawa kecil. “Kenapa kau senang sekali memberiku bunga, Chanyeol?”

Baekhyun ingat saat mereka pertama kali bertemu. Chanyeol tengah memupuk bunga di halaman belakang sekolah mereka, dan Baekhyun hanyalah murid yang kebetulan lewat saat itu. Chanyeol melihatnya, lantas memberinya setangkai bunga dengan cuma-cuma. Ketika Baekhyun bertanya kenapa, kenapa, kenapa, jawaban Chanyeol selalu sama;

    “Karena kau cantik seperti bunga ini.”

Tak peduli sudah berapa kali kalimat itu ditangkap telinganya, dia tetap tersipu malu. Terlebih kali ini Chanyeol mencondongkan tubuh dan mengecup pipinya, membuat syarafnya kalang kabut. Baekhyun tidak suka diperlakukan seperti ini, tapi lain cerita jika Chanyeol yang melakukannya.

    “Maaf tidak bisa memberimu apa-apa di hari ulang tahunmu.” Chanyeol kembali murung dalam hitungan detik, tapi Baekhyun berhasil menghiburnya ketika dia berjinjit dan menepuk kepala si jangkung itu. Chanyeol paling suka ketika Baekhyun mengusap kepalanya.

    “Aku tidak butuh hadiah. Jangan pikirkan itu lagi.” Baekhyun menyipitkan matanya, serius. Chanyeol tidak perlu berusaha sekeras itu untuk merayakan ulang tahunnya. Yang dia butuhkan adalah Chanyeol yang bahagia, bukan tumpukan hadiah.

Chanyeol menyeringai kecil sebelum meraih tangannya lagi, lalu mulai berjalan keluar gerbang rumah sakit. “Ikut aku.”

Baekhyun bertanya kemana mereka akan pergi, tapi Chanyeol tidak menjawab. Mereka terus berjalan, melewati tempat-tempat familiar yang sering mereka datangi. Toko roti tempat Kyungsoo kerja sambilan, bar yang selalu dikunjungi oleh Jongin, taman bermain, bahkan toko perhiasan tempat Chanyeol membeli—semacam—cincin tunangan untuknya.

Seperti memori yang mengalir begitu saja, Baekhyun terus melangkah dalam genggaman tangan Chanyeol. Hingga akhirnya tungkai mereka berhenti, dan Baekhyun membulatkan matanya. Dari semua terkaan yang muncul di kepalanya, tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Chanyeol akan membawanya ke tempat ini.

Baekhyun mematung di tempatnya berdiri, tapi Chanyeol mendesaknya untuk masuk ke dalam tempat itu. Chanyeol menguatkan genggaman tangannya, melangkah lagi beberapa meter, lalu berhenti di depan dua pasang batu dengan ukiran rapi yang menancap di tanah.

Bibir Baekhyun bergetar ketika dia membaca ukiran yang tertera pada salah satu batu.

———-

BYUN BAEKHYUN

FROM

MAY 6 1992

UNTIL

MAY 6 2013

———-

    “Baekhyun,” Chanyeol melilitkan lengannya di sekitar tubuh mungil yang bergetar kaku itu, lalu menarik napas panjang. Baekhyun mengerjapkan matanya, mulai merasa kabur. Dia tidak berani mendengar apa yang akan Chanyeol katakan selanjutnya.

    “Kita sudah mati.”

 

|END|

—-O—-

My opinion about this fic :

Ok. Aku kurang suka dengan fic yaoi maupun yuri. Membayangkan mereka berpegangan tangan dan hal – hal romantis lainnya dilakukan oleh sesama jenis selalu membuatku bergidik ngeri. Tapi entahlah untuk fic ini ada sebuah pengecualian. Mungkin karena disini tidaj terlalu menonjolkan adegan romancenya. Good job buat kak Liv yang udah bikin fic ini. Jiayou~~!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: