I Would


iwould—-o—-

Tittle : I Would

Author : Cyndefirst

If I could walk away as easily as you… I Would

—-o—-

[ click play button while read this fic ]

—-o—-

Wajahku pasti sangat berantakan begitu juga dengan tempat tidurku. Entah sudah berapa kali aku berguling – guling, memukul – mukul guling, melempar bantal keatas, melompat – lompat, dan meremas – remas selimutku. Aku benar – benar kacau. Handphoneku sudah remuk dibawah kolong sana, aku tak peduli lagi dengan benda itu lagi. Korden belum terbuka dan lampu masih menyala, padalah sudah tengah hari saat ini. Perutku nyaring berbunyi tetapi tak kuhiraukan bunyinya.

Aku tak menyangka akan menjadi sekacau ini. Seumur hidup ini pertama kalinya aku merasakan sakit yang begitu menusuk. Seorang playbloy kelas atas dapat ditaklukkan oleh seorang gadis biasa. Tak ada yang spesial dari tubuhnya seperti mantan – mantanku sebelumnya. Rambutnya tidak halus, kulitnyapun tidak mencerminkan kulit seorang gadis, terlepas dari kesemuanya itu aku benar – benar telah dibuatnya bertekuk lutut oleh kesederhanaannya.

Tak mudah memang mendekatinya, tidak semudah merayu gadis – gadis yang kutemui di klub. Hanya dengan satu senyuman, dengan sendirinya mereka datang menghampiriku dan membelai dadaku atau meletakkan kepala mereka dipundak dan lenganku. Gadis ini membuatku mengerti arti sebuah pengorbanan dalam meraih sesuatu. Aku harus berhadapan dengan adik laki – lakinya yang ganas lalu ibunya kemudian ayahnya yang tingkat kekejamannya setara dengan Hitler demi melindungi putrinya dari seorang playboy. Apakah semua orang tau bahwa aku seorang playboy?

Akhirnya saat itu datang. Aku dan dia duduk bersisian disebuah ayunan.

                “Akhirnya kita bisa berada dalam jarak sedekat ini ya?” kataku memulai pembicaraan ini.

Ia mengangguk.

                “Maaf membuatmu terganggu selama ini, aku sama sekali tak punya niat jahat padamu,” ucapku lagi.

Ia mengangguk lagi.

                “Kau tau kalau aku berjuang untukmu?” dan ia mengangguk lagi.

                “Semua orang tau aku tipe laki – laki seperti apa.”

Hening. Hanya suara gemerisik daun yang terbelai angin. Kuubah posisi dudukku supaya dapat melihat wajahnya. Ia terkejut.

                “Tapi kau benar – benar telah mengubahku menjadi seorang pribadi yang lebih baik,” ucapku sambil menatap mata hitamnya.

                “Tak ada satupun dari sekian banyak mantanku yang membuatku lebih baik, yang ada membuatku semakin buruk setiap harinya.”

                “Hanya kau. Hanya kau yang benar – benar kucintai,” kali ini kuucapkan sambil menggenggam tangannya.

                “Na joahae.”

Sebuah pesawat lewat ketika ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

                “Apa? Aku tak mendengarmu,” kataku seusai pesawat itu lewat.

Lalu aku mendengar suara yang bahkan tak dapat kumengerti. Ia berusaha membuatku mengerti apa yang diucapkannya. Aku tak menyangka apa yang sedang aku lihat maupun dengar saat ini. Tiba – tiba ia merampas handphoneku dan menuliskan beberapa kalimat disana dengan air mata mengalir.

                Nado joahae. Kau pasti kaget bahwa aku seorang bisu yang tak dapat berbicara dengan jelas. Aku tak
sempurna seperti pacar – pacarmu yang sebelumnya. Aku takut kau akan menanggung malu saat berhubungan dengan seorang
bisu seperti diriku jadi kurasa hubungan kita sebagai teman cukup sampai disini saja. Kau pasti amat sangat menyesal
mengejar – kejar seorang gadis yang bahkan bicara saja tidak bisa.

Aku baru saja tersadar bahwa selama ini belum pernah mendengarnya berbicara. Tapi setelah mengetahui kebenarannya itu tak membuatku benci barang sedikit padanya.

                “Na joahae. Neomu neomu joahae,” kataku dengan penekanan disetiap kata – kata.

                “Aku tak peduli apakah kau bisu ataupun tidak. Aku benar – benar menyukaimu,” kataku dengan emosi meletup – letup.

Ia meraih handphoneku sekali lagi, menuliskan sesuatu disana lalu pergi.

                Maaf, aku tidak bisa.

Dan itu benar – benar kesempatan pertama dan terakhir untuk bertatap muka dengannya. Hal itulah yang membuatku sekacau sekarang. aku mendudukkan diri dan memandang kearah cermin dan melihat diriku seperti gembel. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru kamar dan kutemukan semuanya berantakan kecuali perangkat musikku. Kujejakkan kakiku kelantai dan mendekati perangkat – perangkat tersebut lalu duduk.

Kutekan tuts – tuts piano mini dihadapanku dan kutemukan sebaris nada telah tercipta. Lalu beberapa saat kemudian tanganku sudah menari – nari diatas tuts. Dalam waktu satu jam terciptalah sebuah karya dari seorang Henry sang komposer lagu yang sudah lama hiatus. Kuraih secarik kertas dan sebuah bolpen, entah bagaimana dengan sendirinya perasaanku berbicara lewat kata – kata. Kuberi judul karya ini “I Would”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: