[Chapter 1] Pictured You


py

—-o—-

Chapter 1

[ 1, 2, 3 ]

 —-o—-

[click play button while read this fic]

—-o—-

                “1.. 2.. 3! Cheese!!” seruku dibalik kamera.

Mereka yang awalnya tertata dalam sebuah barisan bubar seketika begitu terdengar bunyi “klik” dari kamera yang kupegang. Dan segeralah terdengar berbagai macam komentar tentang foto yang baru saja kuambil.

“Iiiih, aku keliatan gemuk banget.”

“Itu kenapa pipiku mengkilap banget?”

“Haduh, ini jidat kenapa keliatan lebar banget sih?”

“Astaga, ini mukaku ketutupan.”

Dan semua itu kudengar secara bersamaan dikedua telingaku dengan volume yang tak terkira kerasnya. Tiba – tiba aku merasakan lengan seseorang melingkar dileherku. Sesuatu tiba – tiba berdesir entah dari bagian tubuhku yang mana. Kutolehkan kepalaku dan kutemukan sosok berponi itu muncul disebelahku. Tentu saja masih dengan lengan yang bertengger dileherku dengan nyamannya, iapun merebut kamera yang kupegang dengan sekali sentakan dengan tangannya yang bebas.

“Foto macam apa ini? Jelek gini, udah semuanya balik keposisi aku aja yang foto,” katanya sembari melihat hasil jepretanku yang sebelum – sebelumnya.

Lalu iapun berkomentar.

“Kamu ini selalu kurang tepat nentuin fokusnya, liat nih fotonya jadi sedikit kabur ginikan?” katanya sambil menunjuk – nunjuk layar kamera.

Kupandangi layar kamera dimana terpampang hasil jepretanku tadi. Not bad. Walaupun benar sedikit kabur.

“Yaampun Tuhan, itu cuman kabur sedikit, men. Gambar yang jernihpun tidak akan membuat wajah mereka bertambah cantik,” kataku membela diri.

Ia hanya tersenyum lalu mengacak rambutku perlahan.

“Udah sana pose bareng mereka semua, aku aja yang foto,” katanya sambil mendorong punggungku.

Dengan langkah lambat aku berjalan kearah barisan teman – temanku yang terlihat tak sabar lagi.

“Siap – siap ya.”

Iapun mulai menghitung mundur.

“1”

Rambut hitamnya melambai – lambai terkena angin yang berhembus.

“2”

Dan desiran itu kembali kurasakan.

“3”

Aku menyukainya.

 

***

Udara dingin yang lewat sepertinya senang bersinggah disekitar tubuhku. Retstleting jaket sudah kutarik hingga atas dan tangankupun sudah kusimpan dalam kantongnya. Tapi tetap saja dingin ini tak pergi dariku dan kakiku mulai kesemutan karena terlalu lama duduk bersila ditengah lapangan ini. Dengan keadaan mata tertutup seperti ini aku buta akan sekelilingku, dari keenam indra yang kupunya yang bisa berfungsi dengan baik hanya telingaku sedangkan hidungku tersumbat oleh ingus yang datang beberapa hari lalu.

Terdengar suara langkah – langkah orang berjalan kian kemari dan tiba – tiba kudengar suara sesuatu yang dipecahkan dan juga seperti suara air terpecik. Sensasi dinginnya air mulai mengalir dari kepalaku. Apa – apaan ini?

“Kalian semua boleh buka penutup mata kalian sekarang,” kata sebuah suara yang kuduga salah satu dari para senior.

Cepat – cepat kubukan slayer yang membutakan mataku selama sekian jam tadi dan kulihat kami semua didudukkan membentuk lingkaran ditengah lapangan. Tepat seperti tebakanku ditengah lapangan. Kudapati beberapa anak senasib denganku, basah. Dengan cepat kucari dimana sosoknya berada. Mataku bergerak dengan liar dan tak kutemukan sosoknya sama sekali.

“Tuk.”

Sebuah jitakan kurasakan ditengkorakku.

“Ahaha. Basah!” katanya dengan senyum tergantung dibibirnya.

“Apaan sih?” kataku sewot lalu cepat – cepat berbalik arah.

Dalam hati aku senang bisa menemukannya tepat dibelakangku. Gengsi dong.

“Siapa disini yang basah?” tanya seorang senior yang paling sadis beberapa jam belakangan.

Ia yang paling getol memarahi kami semua. Lalu kuperhatikan ada sekitar 6 anak yang mengangkat tangannya. Setidaknya bukan aku sendiri yang basah.

“Tanpa kalian ketahui sebenarnya kami mengamati kalian sejak kalian datang dan anak – anak yang basah memiliki hasil jepretan yang baik diantara yang lainnya,” begitu kalimat itu selesai dikatakan wajah sang senior horror itu berubah menjadi pangeran berkuda putih.

Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kualami sekarang. Bagaimana bisa seorang gadis sepertiku yang selalu dikritik dapat terpilih sebagai salah satu anak yang memiliki hasil jepretan yang baik.

“Tuk.”

Sebuah jitakan kurasakan kembali.

“Congrats ya cil,” katanya sambil melempar segumuk pasir kearahku.

“Aduh, kelilipan ini aku. Perih ini,” seruku dengan airmata yang perlahan – lahan mulai terbit.

Kedua matakku tertutup dan mencoba menahan rasa sakit yang makin menjadi.

“Ada apa ini? Kamu kenapa?” salah satu senior sepertinya mendekatiku.

Hening sejenak dan akhirnya iapun angkat bicara.

“Aku tadi mau ngerjain dia soalnya kepilih pakai pasir, aku gak tau kalau pasirnya akan masuk kedalam matanya,” kutemukan nada kekhawatiran dalam suaranya.

“Coba kamu buka mata kamu perlahan, pelan – pelan aja. Kalau sakit tutup lagi,” kata sang senior lembut.

Akupun mencoba membuka kedua mataku dan rasa perih itu langsung menyerang dan air mataku makin banyak keluar. Kukerjab – kerjab mataku supaya pasir itu segera hilang dan rasa sakitnyapun hilang secara perlahan. Samar dapat kulihat sang senior berjongkok didepanku dan ia duduk disebelahnya dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan. Selama ini aku mengenalnya aku belum pernah menemukan ekspresi itu terpancar dari wajahnya.

“Sekarang coba buka matamu,” kata sang senior dan mulai meniup mataku.

Setelah ditiup mataku terasa lebih enakan walaupun masih perih. Aku seperti punya hutang budi yang banyak pada senior itu.

“Makasih ya, kak. Maaf udah ngerepotin,” kataku dengan mata mengerjap – ngerjab.

“Ok. Nanti datang keruang panitia ya ambil obat tetes mata, matamu merah banget itu,” katanya lembut. Kali ini aku dapat melihat wajahnya dengan jelas, lumayan juga.

Sepasang telapak tangan tiba – tiba melayang dikedua pipiku dan menggoncang – goncangkan kepalaku.

“Sekarang udah mendingankan? Maafin aku ya? Aku gak ada maksud sama sekali,” katanya lemah.

“Udah mendingan kok, coba gak ada kakak itu entah aku jadi apa sekarang. Tanggung jawab kamu,” kataku dengan sedikit emosi.

Iapun memegang kedua pipiku dengan tangannya yang besar.

“Tolong ingat apa yang aku katakan, mulai saat ini, detik ini, aku akan selalu ngelindungi kamu dari apapun. Aku janji selama jantung ini masih berdetak, aku janji,” ucapnya sungguh – sungguh dengan ekspresi yang benar – benar serius. Tak kutemukan satu candaanpun dalam setiap kata yang diucapkannya dan jantungku mulai berdegub.

Iapun melepaskan tangannya dari pipiku, berdiri, dan mengulurkan tangannya padaku. Kusambut uluran tangannya lalu berdiri.

“Habis ini acara bebas tapi jam 9 kumpul lalu pulang,” seru salah satu senior dan aku baru saja tersadar bahwa seisi lapangan sudah bersih selain aku dan dia yang berdiri berhadapan ditengah lapangan. Cepat – cepat kupaksa kakiku untuk pergi dari hadapannya sebelum wajahku akan benar – benar merah.

—-o—-

[To be continued]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: