[Chapter 2] Pictured You


py

—-o—-

Chapter 2

[ Mbak bos ]

 —-o—-

[click play button while read this fic]

—-o—-

                Moodku sedang baik sore ini. Dengan kamera tergantung dileherku dan secangkir kopi hangat yang ada dalam genggamanku. Semilir angin membelai rambutku lembut dan membawa berbagai macam aroma makanan dari restoran sekitar. Saat ini aku ada dilantai teratas apartemenku menunggu matahari ditelan bumi. Suasana disini amat sangat tenang, hanya ada suara dengkuran beberapa mesin AC disini. Jika cuaca cerah aku sering sekali berada ditempat ini dan mengambil foto apapun yang ada.

Entah tetesan air,  layangan putus, kaki atau tanganku sendiri, atap – atap rumah, kegiatan para karyawan restoran, gelang yang kupakai, burung – burung, dan matahari terbenam. Apapun yang menarik difoto. Kulihat semburat – semburat garis oranye diufuk barat mulai menghiasi langit yang mulai gelap. Kuletakkan cangkir kopiku dan mulai menjepret. Aku suka sekali langit sore seperti ini, aku suka dengan perpaduan warna langit yang mulai gelap, awan putih, dan warna dari sang mentari yang merah keoranye – oranyean.

Betapa indahnya lukisan Tuhan yang ditorehkanNya dalam kanvas alam ini. Tanganku semakin lihai dalam memutar fokus dan menjepret sana – sini. Hingga kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku. Aku langsung berbalik dan refleks kutekan tombol take kameraku. Kudapati seorang lelaki sedang duduk bersila dan meniupkan gelembung – gelembung udara. Tanganku segera menjepret pemandangan indah yang kulihat saat ini. Gelembung membiaskan cahaya redup matahari menjadi sesuatu yang indah. Entahlah.

“Bagaimana bisa kau ada disini,” tanyaku.

Ia memasukkan sedotan kedalam gelas lalu meniupnya. Timbul segerombol gelembung dari ujung sang sedotan.

“Mamamu yang memberitahuku kau disini,” ucapnya lalu mulai meniup gelembung lagi.

“Hey! Kenapa aku mencium aroma sabun cuci?” tanyaku sesaat mengendus adanya bau yang tak lazim diatas sini.

Iapun mengacungkan gelas berisi cairan pembuat sabun.

“Gelembung ini dari sabun cuci?” segera kuraih gelas tersebut dan mencium isinya. Ini memang sabun cuci.

Sebuah gelembung mengenai mataku dan rasanya perih sekali.

“Ya! Kenapa kau selalu mencelakai mataku!!” teriakku kesal.

“Astaga, EunJi~ya maaf,” katanya lalu kudengar langkahnya menjauh dariku dan beberapa detik kemudian kudengar suara air keluar dari kran. Langkahnya kudengar mendekat kembali. Tangannya yang basah menyentuk kedua mataku dengan lembut.

“Coba sekarang buka matamu, pelan – pelan aja,” dengan perlahan kubuka mataku dan kudapati wajahnya berada setidaknya 20 cm dari wajahku.

Wah, wajahku pasti sangat merah saat ini, mengingat jarak wajah kami tak lebih dari satu jengkal. Rasanya angin berhembus dari segala arah kearah kami berdua. Hembusan nafasnya semakin dekat kurasa dan tangannyapun mengusap ujung kepalaku. Dan wuuuusssh, kurasakan sebuah tiupan keras menerpa wajahku.

“Kau jangan berpikiran yang aneh – aneh!” serunya sehabis menghembuskan angin topan kewajahku.

Kulayangkan sebuah pukulan berkekuatan gondam kepundaknya dan kudengar ia merintih kesakitan. Aku berusaha bersikap tak peduli walaupun rintihannya membuatku cemas juga. Apakah pukulanku sekeras itu? Iapun berdiri lalu meraih kameraku dan Buuuuuk. Kameraku jatuh.

“Kamu tak apa?” aku segera berdiri mendekatinya.

Aku bersyukur kameraku terbungkus aman dalam tasnya saat jatuh. Tiba – tiba kudengar tawa terbahak dan tawa itu berasal dari mulutnya.

“Satu monyet tertipu,” ucapnya disela tawanya yang membahana.

“Tau ah,” aku benar – benar jengkel dengannya saat ini.

Aku langsung melenggang pergi dan menuruni satu persatu tangga kebawah menuju apartemen. Ia menguntitku dari belakang dengan ribut, mengucapkan hal – hal yang tak akan mempan membuatku tersenyum.

“Kamu cantik deh.”

“Kamu imut deh.”

“Mbak bos.”

“Maaf ya,” kali ini ia menyentuh pundakku tapi langsung kutepis dan ia terus saja menggumam.

Sampailah kami didepan apartemenku dan ia masih saja menggumam, kubuka pintu apartemen lalu kutemukan mama sedang duduk menonton tv.

“JongHyun~a. Ayo makan dulu baru pulang,” orang tua macam apa ini? Bagaimana bisa anak orang ia perlakukan baik – baik sedangkan anak kandungnya sendiri ia terlantarkan.

Ia yang mendapat sambutan hangat langsung melenggang masuk kedalam dan menyerahkan kameraku dengan tak manusiawi. DILEMPAR!

“Ya!” saat aku akan menghantamnya lagi, Bruuuuk. Aku terjatuh. Bukannya datang menolong mereka berdua malah menertawaiku.

Mood yang sudah kutata rapi untuk belajar sosiologi besok hilang sudah gara – gara dua mahkluk itu, maksudnya mama dan JongHyun. Kubanting pintu kamarku dan kujatuhkan diriku keatas tempat tidur lalu kuraih kameraku dari dalam tasnya. Satu – persatu kulihat hasil fotoku tadi. Secangkir kopi, tanganku, bapak – bapak yang sedang mengangkut beras, anak kecil bersepeda, langit dengan semburat oranyenya, dan fotonya dengan gelembung – gelembung disekitarnya. Senyumku tiba – tiba merekah begitu saja. This kid always made me fluttering.

Braaaaak! Aaargh!” kudengar suara sesuatu terbanting dan teriakan kesakitan dari arah dapur.

Langsung kebuka pintu kamarku dan aku melihat ia meremas pundaknya yang tadi aku pukul dengan ekspresi benar – benar kesakitan. Lalu dilantai kulihat sup berceceran dan serpihan mangkuk pecah disekitarnya. Mama terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut tubuhnya dan rambut penuh sabun dengan ekspresi kaget.

“Mama lanjut mandi aja, dia aku aja yang urus,” kataku lalu segera datang menghampirinya setelah mama masuk lagi kedalam kamar mandi.

Kuambil sekantung plastik dan kuambil satu persatu pecahan mangkuk yang tercecer.

“Kau! Diam disitu!” seruku sewaktu ia akan melangkah mendekat, bisa – bisa kaki akan terluka dan makin menyusahkan.

Sebenarnya aku sendiri juga takut tangaku akan terluka, tak apalah demi dia. Setelah kurasa lantai sudah bebas kaca, kuambil kain tak terpakai dan ember. Kukumpulkan menjadi satu sup yang tumpah lalu kusingkirkan dan kupel lantai dengan kain lain yang sudah kubasahi. Ia hanya memandangiku mengerjakan ini semua. Dia ini memang selalu menyusahkan.

Apa yang kutakutkan ternyata menimpaku, awalnya kurasakan perih dijariku dan benar saja sesuatu yang berwarna merah menetes dari 3 buah jariku. Hebatnya semua ditangan kanan, entahlah bagaimana di sekolah besok waktu mencatat. Kutahan rasa perih yang mulai menjadi hingga semuanya selesai dan ketika aku melangkah kurasakan rasa perih yang lain dikakiku. Lengkap sudah penderitaanku sore ini. Sudah tangan terluka, kaki juga terluka, jalan pincang, besok tak bisa mencatat, mengurus bayi besar, lengkap sudah.

Dengan langkah lebih lambat dari seekor siput aku mencoba untuk meraih kotak obat. Bisa kulihat tetesan darah tercecer dilantai, ini semua karena bayi besar itu. Tiba – tiba sebuah tangan memegang lenganku dan menuntunku berjalan, yang bukan dan tidak lain adalah si bayi besar. Bantuannya benar – benar kuhargai saat ini setelah segala tingkahnya yang membuatku emosi. Kuambil 3 buah plester, kapas, kasa, alkohol, obat merah, dan koyo setelah akhirnya sampai didepan kotak obat.

Kududukkan diriku keatas sofa dan mulai mengobati tanganku tapi dua buah tangan menghalangiku dan melakukan semuanya untukku, mulai dari membersihkan lukaku dengan alkohol, menutup lukany dengan plester, dan membalut luka dikakiku dengan kasa.

“Makasih,” kataku singkat dengan jantung berdegub keras.

Kuraih koyo diatas meja dan membuka bungkusnya.

“Balik sana! Buka bajumu!” perintahku dengan nada galak.

Ia langsung berbalik badan dan membuka bajunya. Kudapati sebuah memar membiru dipundak kirinya. Perlahan kutempelkan koyo didaerah yang memar dan rupaya memar itu amat sangat menyakitkan sehingga membuatnya mengaduh saat tanganku menyentuhnya.

“Maaf,” ucapku dengan air mata yang entah mengapa menetes dari pelupuk mataku.

Kepalaku tertunduk.

“Tak apa. Lihat lukamu lebih banyak dariku, maafkan aku tak bisa melindungimu dengan baik. Maaf,” ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku dan meletakkannya didada bidangnya.

“Kau ini seperti adekku sendiri tapi entah aku tak nyaman dengan sebutan itu, mungkin sesuatu yang lebih dari adek, lebih dari teman,” ucapannya menggantung.

Kudongakkan wajahku dan menatap wajahnya, kaget dengan segala ucapannya tadi. Ia menyukaiku?

“Lupakan yang aku ucapkan tadi,” katanya dengan senyum yang sama sekali tak bisa kuartikan artinya.

Entah mendapat kekuatan darimana kukecup bibirnya sekilas. Aku merasa harus melakukannya.

Na neo johahae,” ucapku lirih dengan kepala tertunduk.

***

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: