[Chapter 3] Pictured You


pictured-you

—-o—-

Chapter 3

[ Aku memang sial hari ini ]

art poster by cnredno

 —-o—-

                “Na neo johahae,” ucapku lirih dengan kepala tertunduk. Tak berani melihat wajahnya.

Semoga ia tertawa dan menganggap ini semua lelucon. Tapi sepertinya yang terjadi malah sebaliknya, ia mengangkat daguku sehingga wajahku yang sembab ini menatapnya lalu ia mengelus puncak kepalaku dengan lembut, sangat lembut. Dan semuanya seperti terflashback disaat kami berdua di atap. Wajahnya perlahan mendekat dan nafasnya yang memburu dapat kurasakan semakin dekat. Bukan sejengkal lagi yang memisahkan kami melainkan sekitar, entahlah aku tak bisa mendeskripsikan disaat ini.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat ini. Berbagai kiss scene dari drama – drama romantis berkelebat dikepalaku. Pikiranku benar – benar kacau dan yang bisa kulakukan hanya menutup mataku. Sebuah desiran itu muncul dari suatu tempat ditubuhku ketika bibirnya menyentuh bibirku lembut.

Perlahan kubuka mataku dan kutemukan itu semua hanya mimpi, iya, mimpi. Ternyata aku tertidur, tapi mengapa ciuman itu terasa begitu nyata? Dan betapa kagetnya diriku ketika tersadar dimana aku tertidur. Aku tertidur dipangkuannya, kupandangi wajah tidurnya dengan mata tertutup dan nafas mengembus teratur. Kuangkat kepalaku perlahan supaya tak membuatnya bangun tapi tangannya menahan kepalaku dan membuatnya tergeletak kembali dalam pangkuannya.

“Ya!” seruku dan ia tetap menahan kepalaku.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya ia melepaskanku. Karena mimpi aneh itu aku menjadi gugup berada didekatnya sedekat ini. Mengingat apa yang kami lakukan……. Ah, sudah lupakan.

“Wajahmu merah,” katanya sambil mencubit salah satu pipiku.

What? Apakah efek mimpi itu membuatku menjadi seperti ini? Cepat – cepat kukemas kameraku dan segera pergi darinya karena entah mengapa bulu romaku menegang. Dengan berjalan cepat, ah, tidak, berlari kecil aku memacu kakiku pergi. Setelah aku berada, kukeluarkan kameraku.

Disana terdapat foto – fotoku saat tidur tadi dari berbagai ankle. Betapa jeleknya wajahku dan akhirnya aku menemukan sebuah foto. Ia duduk bersandar ditembok dan aku tertidur dipangkuannya, sama seperti saat aku terbangun tadi. Tapi satu yang berbeda. Dia, dia, dia. Menciumku.

“Kau sudah melihatnya?” tiba – tiba entah darimana ia muncul didepanku dan itu membuatku kaget setengah mati.

Ia mendekat lalu duduk disampingku. Hening.

Na niga johda,” katanya memecah keheningan.

Aku terdiam. Tak tau harus berbuat apa.

“Apakah senior itu membuatmu jatuh hati?” katanya dengan nada menuduh.

“Apa? Yang benar saja,” kataku dengan nada sewot sambil membereskan kameraku kembali.

Mengapa ia mendadak sensitif?

“Mau kemana kau?”

“Pulang.”

“Jika kau bersikeras pulang sekarang aku akan melakukan sesuatu yang buruk untuk menahanmu disini,” katanya.

Sesuatu yang buruk? Perlakuan seburuk apakah yang bisa dilakukan oleh seorang JongHyun? Kuraih kameraku lalu kusampirkan dipundak dan segera menuruni anak tangga.

“Jika kau turun satu anak tangga lagi itu menandakan kau menyukai senior.”

Deg. Kata – katanya membuatku terhenyak. Aku tak menyukai senior, aku hanya menyukai seorang. Kudengar langkah sepatunya menuruni tangga dan sekarang dapat kurasakan kepalanya dipundakku.

“Kau tau betapa tertekannya aku selama ini?” aku menggeleng.

“Senior itu yang mengaku dirinya bernama Seo InGuk mengancamku setelah insiden saat pelantikan waktu itu.”

***

                Duh. Alarm sialan. Biarkan aku tidur setidaknya satu jam lagi. Kau tak merasakan penderitaan yang kurasakan kemarin pelantikan. Bonyok sudah seluruh tubuhku.

Kuposisikan tubuhku telentang dan mataku mengerjap. Mengapa silau sekali? Deg. Cepat – cepat kududukkan tubuhku dan betapa kagetnya diriku sudah jam berapa sekarang ini. Jarum panjang menunjukkan pukul 06.55.

Dengan cepat kilat aku menuju kekamar mandi. Buuuuk. Aku tersandung selimutku yang aku tendang asal – asalan tadi dan seluruh tubuhku terasa patah semua. Dengan terhuyung – huyung aku melangkah kekamar mandi. Kulakukan semuanya dalam 1 menit mulai dari melepas baju, sikat gigi, dan sabunan.

Dan betapa bodohnya diriku, ternyata seragam hari ini belum kusetrika karena tubuhku begitu remuk. Cepat – cepat kuraih seragam kusut tersebut dari keranjang dan tak lupa kuraih tas, handphone, dan headset. Begitu melihat jam sekarang sudah pukul 07.05. Dalam satu menit aku sudah mencapai jalan raya dan berlari seperti dikejar anjing gila. Aah, lebih tepatnya orang yang ikut lomba lari marathon.

Saat gerbang sekolah sudah didepan mata dapat kulihat guru itu berdiri disana membawa senjata pamungkasnya. Dengan nafas terengah akhirya kakiku menapakkan dirinya didepan gerbang .

“Kau? JongHyun? Bapak tidak salah lihat?” aku menggelengkan kepala sambil menahan nafas.

“Apa yang terjadi? Apa yang membuat murid kesayanganku menjadi telat seperti ini?” katanya sambil membuka gembok dan membuka gerbang untukku.

Apakah ia tak akan menghukumku? Sepertinya ada gunanya juga jadi anak teladan,

“Kemarin saya baru saja kembali dari pelantikan ekskul saya pak,” jawabku setelah nafas sudah kembali normal.

“Ekskul apa?” tanyanya sambil mengelus – elus dagunya sedangkan senjata pamungkas miliknya ada di kantong celananya.

“Fotografi,” jawabku dengan senyum terkembang.

“Ey, bagaimana bisa anak secerdas dirimu mengikuti ekskul seperti itu? Tak berguna untuk masa depanmu, orang sepertimu cocok di ekskul jurnalistik. Disana juga ada fotografikan?” cerocosnya panjang lebar dan yang kulakukan hanya senyum – senyum tidak jelas.

“Yah, bagaimanapun peraturan tetap peraturan,” sedetik kemudian aku merasakan pukulan keras pada pantatku.

Aku memang sial hari ini.

“Karena kau baik dalam pelajaran bapak tidak akan menulismu dalam buku pelanggaran,” kutatap buku itu menganga dengan begitu seram dimeja dekat gerbang.

“Wuaa, kamsahamnida seonsaengnim,” ucapku dengan bahagia dan segera berlari menuju kelas.

Dari kejauhan kudengar suara gaduh dari kelas, begitu pintu terbuka keadaan kelas tidak beraturan sama sekali. Jam kosong. Terpujilah nama Tuhan. Senyum sudah terkembang diwajahku dan langsung duduk dibangku keramatku cepat – cepat. Dan kurasakan sebuah sengatan listrik beratus – ratus volt mengalir dari pantatku keseluruh tubuhku.

Seluruh matapun mengarah padaku, semuanya tak terkecuali. EunJi-pun juga menatapku dengan pandangan kaget. Rupanya aku berteriak keras tadi.

“Tak apa, tak apa, silahkan kembali keaktivitas kalian lagi. Maaf mengganggu,” kataku lalu segera duduk dengan lembut takut aliran listrik itu timbull kembali.

Boom! Dengan cepat terdengar suara kursi ditarik dan terlihat 7 mahkluk penasaran sudah ada disekelilingku. Mereka semua bungkam tapi mata mereka dipenuhi dengan rasa keingintahuan yang teramat besar. Dapat dilihat dari ekspresi mereka yang datar, mata melotot, alis terangkat, dan kedua tangan menopang dagu.

“Iya, iya aku ceritain,” begitu kalimat itu terucap senyum – senyum nakal muncul dari wajah mereka.

Kuceritakan semua secara runtut tanpa bumbu penyedap apapun dan tawa merekapun meledak semenjak kata pertama kuucapkan.

“Sial banget sih kamu?”, kata JaeBum.

“Kamu punya EunJi kenapa gak diandalin?” kata JiEun dan segera mendapat lirikan tajam dari EunJi.

Berselang beberapa menit kemudian kami semua sudah sibuk dengan kegiatan masing – masing kembali. Tiba – tiba terdengar suara kikikan pelan dan semua orang tau darimana asal suara itu.

Mwoya?” ucapnya disela tawanya.

Seketika itu juga perkumpulan bubar. EunJi dan JiEun dengan komik mereka, mereka berdua lebih suka komik shoujou. JaeBum dan JinYoung dengan tab mereka, mempelajari gerakan dance baru, aku dan SeungHo membahas buku baru yang dibelinya mengenai gadget terbaru. Tinggallah dia sendiri, tak diperhatikan, terlantar, dianak tirikan. Kulirik sebentar kearahnya dan ternyata ia telah tenggelam dalam nada – nada dan lirik, ia adalah seorang komposer handal dengan wajah lumayan hanya saja sifat lolanya membuat gadis manapun menjauhinya.

“Ke toilet bentar ya.”

Dengan langkah lebar aku segera menuju toilet untuk menuntaskan hasrat yang mendesakku. Keadaan lorong sepi sedangkan terdengar samar suara para guru yang sedang mengajar siswa didiknya. Begitu melihat sebuah pintu dengan sebuah gambar lelaki berwarna biru aku segera melesat kedalamnya. Akhirnya hasrat ini terpenuhi juga dan aku merasa lebih lega sekarang. Kuhampiri wastafel dan menemukan betapa kusutnya seragam yang kupakai dengan rambut yang benar – benar berantakan.

Kuputar keran lalu membasahi rambutku dengan air dan merapikannya. Dari kaca dapat kulihat sosok senior itu datang mendekat dan akhirnya ia berada disampingku membasuh tangannya. Kurasakan sebuah lirikan tajam yang ia layangkan padaku dan tak kuhiraukan lirikkan itu, mungkin dia melihat hantu atau apa. Setelah selesai merapikan diri aku segera cabut dari tempat itu yang memiliki hawa negatif sejak ia masuk kedalam sini.

“Kau tak mengenalku?”

Aku terhenyak. Tak pernah menyangka bahwa senior itu akan memulai sebuah pembicaraan denganku.

Aku menoleh.

“Sunbaenim… Annyeong haseyo,” ucapku sopan sambil membungkukkan badan lalu segera pergi dari tempat terkutuk ini.

“Jika kau masih peduli dengan EunJi tetaplah disini,” katanya sambil bersandar pada pintu salah satu bilik toilet.

***

To be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: