Rain


rain

—o—

HUJAN

an original fiction by cyndefirst

—o—

Udara menjadi semakin dingin seiring sang mentari menghilang ditelan bumi. Tidak cukup sampai disitu saja, langit yang seharusnya berwarna jingga perlahan berubah menjadi hitam keabu – abuan. Lalu tetes demi tetes air, perlahan – lahan jatuh dan semakin lama ia menjadi hujan deras. Ya, hujan.

Semua orang berlarian mencari tempat berlindung, berusaha sebisa mungkin untuk tidak basah. Ada yang mengeluarkan payung mereka, berlari ke halte bus terdekat, masuk kedalam sebuah café, dan ada yang hanya duduk diam ditengah derasnya hujan. Hanya diam.

Mengapa kau datang seperti hujan? Datang dengan tiba – tiba dan ketika kau pergi selalu meninggalkan bekas. Kau tau bekas apa itu? Luka. Luka yang teramat dalam dan perih. Tak taukah kau seberapa sakitnya itu?

***

Gemerisik suara hujan menggelitik telingaku. Deruan angin dingin menerpa kulitku. Aroma tanah basah mulai tercium samar – samar. Digenggamanku secangkir kopi hangat menemaniku. Kuhirup kepulan asap hangatnya dalam – dalam.

Berkali – kali kulirik  blackberry davisku, berharap sebuah telepon akan membunyikan nada dering tanda telepon masuk. Aku mengikuti sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan oleh perusahaan bergengsi dan tidak main – main hadiahnya. Segala tetes keringat kuperjuangkan untuk membuat suatu karya yang berbobot dan menarik minat para juri untuk memilih karyaku sebagai pemenangnya. Terbesit dalam pikiranku bahwa tak hanya aku yang mengikuti lomba ini dan masih banyak orang yang karyanya lebih baik dari aku. Tapi aku harus optimis.

Air masih dengan derasnya tumpah dan membuatku semakin gelisah karena hari beranjak sore. Belum ada satu teleponpun yang mengabari bahwa aku memenangkan lomba ini. Kopiku sudah habis dan mungkin harapanku untuk menang juga habis. Dengan malas kulangkahkan kakiku menuju kamar untuk mengambil jaket. Aku berinisiatif untuk pergi kesebuah  café untuk menenangkan pikiranku.

Kuterjang hujan deras ini dengan sebuah payung untuk melindungiku dari derasnya air yang mengguyur kawasan kompleks rumahku. Segera kulangkahkan kakiku masuk kedalam café setibanya aku disana. Aroma kopi dan roti yang baru saja keluar dari oven menggelitik hidungku. Kulihat sebuah meja kosong didekat jendela, tanpa pikir panjang aku langsung menuju kesana. Kupesan segera secangkir  moccachino dan dua buah cupcakes tanpa melihat menunya.

Kusapu pandanganku kearah luar. Hujan masih menumpahkan persediaan airnya. Tak sengaja kutangkap sosok seorang cowok yang sedang keluar dari mobilnya. Ia mengenakan denim  shirt dan jeans biru dipadu dengan sepatu kets warna hitam. Terus kuperhatikan lelaki itu ketika ia mulai membuka payung hitamnya dan perlahan – lahan berjalan menyebrang jalan. Seketika angin berhembus kencang dan membuat payung hitamnya terbuka keatas seperti piala.

Aku terkikik saat melihat wajah kebingungan menghiasi wajahnya. Ia segera berlari kearah café ini dengan baju setengah basah. Segera kuambil majalah yang ada dimeja untuk menutupi wajahku yang merah karena sehabis tertawa. Ia terlihat kikuk saat semua mata memandang kearahnya. Dan iapun segera duduk dikursi didekatnya dan memesan sesuatu. Segera kuteguk  moccachinoku yang entah kapan sudah ada dimeja. Rasa hangat mengalir ditenggorokanku dan membuatku sedikit lebih tenang. Apalagi setelah melihat kejadian konyol tadi. Aku terkikik lagi saat teringaat kejadian itu. Malang nasib cowok itu.

Segera kuhabiskan  cupcakes dihadapanku lalu pergi dari  café ini. Kurasa cukup untuk hari ini berada di  café ini, aku ingin pulang dan berendam air hangat. Saat aku melewati dimana cowok itu duduk, selama sepersekian detik mata kami bertemu. Jantungku memompa darahku lebih cepat dari normal. Pikiranku mulai kacau lagi, aku harus segera sampai rumah.

***

“Hei kecil!” aku tau persis siapa orang yang memanggilku dengan sebutan itu.

“Apa prince dimple?” jawabku dengan muka datar begitu kulihat wujudnya.

Ia menghampiriku dan memeluk pundakku.

“Katanya ada siswa pertukaran pelajar yang akan masuk hari ini.”

“Serius? Cewek atau cowok?” tanyaku dengan mata berbinar.

“Mmm, kasih tau gak ya? Mau tau atau mau tau banget?”

Itu salah satu sifat  prince dimple atau nama aslinya Gilang, yang tidak aku sukai. Mengapa aku memanggilnya begitu? Karena terdapat lesung pipit dikedua pipinya.

Aku segera memasang wajah marah seperti biasa kalau dia mulai menyebalkan.

“Yah, gitu aja marah. Mau aku kasih tau gak? Sini,” katanya sambil mengisyaratkan akan

membisikkan sesuatu.

Aku segera mendekatkan telingaku kedekat mulutnya. Karena aku sangat penasaran.

“Liat aja nanti, kamu pasti tau,” katanya dengan wajah penuh kemenangan karena baru saja berhasil mengusiliku.

“Dimple jelek!” aku segera mengejarnya begitu ia lari menyelamatkan diri dari pukulan maut yang kumiliki.

“Anak – anak ibu akan memperkenalkan pada kalian seorang teman baru. Dia adalah siswa pertukaran pelajar yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kelas ini.”

Lalu masuk seorang cowok yang gayanya stylish melebihi artis korea.

“Hai semuanya. Perkenalkan namaku David Cho tapi panggil saja aku Dave. Mohon

bantuannya,” katanya dengan senyum menghiasi wajahnya. Seluruh tubuhku serasa meleleh.

Tuk!

Gilang baru saja memukulku dengan penggarisnya. Sebuah tatapan tajam segera kulayangkan

kearahnya.

“Sadar, mbak. Kamu belum gilakan?” tanyanya dengan wajah manis dibuat – buat.

Aku sedang tak ingin meladeni cowok usil itu dan kubalikkan kepalaku lagi kedepan.

“Baik. Silahkan duduk dikursi kosong disana. Mari kita mulai pelajaran hari ini,” Bu Theo

memberi instruksi padanya untuk duduk dikursi kosong dibelakang Gilang persis.

Gilang senyum – senyum tak jelas begitu David duduk dibelakangnya.

Kuperhatikan wajah David beberapa saat, aku merasa tak asing dengan wajahnya. Kuputar otakku untuk mencari wajahnya dimemori otakku. Ah! Dia cowok tempo hari yang payungnya… Aku tak ingin melanjutkan kalimat itu, ingin tertawa rasanya setiap mengingat kejadian itu.

***

Sudah beberapa hari ia menjadi siswa dikelasku tapi ia sama sekali tidak bersosialisasi dengan yang lain. Otaknya memang encer tapi apa artinya kalau teman saja tak punya. Satu poin minus untuknya.

“Cil, aku pulang duluan ya. Sorry aku gak bisa anter kamu pulang,” kata Gilang suatu hari.

“Ok, gak apa kok. Aku juga mau ngerjain tugas dulu.  Bye!” ia melambaikan tangannya lalu menghilang dari balik pintu.

Kelas sudah sepi sekarang ini, tinggal aku sendiri disini. Suara detik jarum jam dan suara goresan pensilku saat menulis terdengar jelas ditelingaku. Aku terus berpikir bagaimana mengerjakan soal sin, cos, tan ini. Aku sendiri heran mengapa penemu pelajaran ini niat sekali membuat rumus – rumus yang menguras tenaga ini dan selama sekitar satu jam aku berkelit dengannya tak kunjung ada pencerahan akan ditemukan jawaban dari soal ini. Aku menyerah!

Kumasukkan buku – bukuku kedalam tas lalu kuambil jaketku dari dalam loker dan bergegas pulang. Tiba – tiba angin berhembus kencang. Awan hitam bergulung – gulung menutupi sinar matahari. Hujan! Rintik hujan mulai membasahi bumi.

Kupercepat langkahku untuk mencapai rumah tapi hujan berubah deras seketika. Segera kucari tempat berlindung dengan larian besar dan kugunakan mapku untuk menutupi kepalaku. Kulihat sebuah halte bis diujung jalan, kupacu kakiku untuk segera sampai di halte tersebut. Tubuhku setengah basah oleh air hujan, beruntung aku melihat halte ini. Kududuki kursi tunggu halte ini dengan perasaan lega. Setidaknya tinggal sedikit lagi perjalanan hingga kerumah.

Kunikmati  saat menunggu hujan reda, aku suka sekali suasana saat hujan. Kutadahi air hujan yang menetes dari atap halte dengan tanganku. Biasanya kalau dari film  romance yang aku tonton, cewek tokoh utama akan menunggu di halte bersama orang yang ia suka atau pacarnya menunggu hujan hingga reda. Dan yang mereka lakukan adalah menadahi air hujan yang menetes dari atap dengan tangan mereka. Aku selalu merasa  envy jika melihat scene itu, kapan aku bisa mengalami scene itu didunia nyata.

Kutolehkan pandanganku kekanan dan kulihat David sedang berlari menuju kehalte ini tapi kali ini tanpa payung. Mengapa ia tidak menggunakan mobilnya seperti biasa? Tibalah ia dihalte ini dengan tubuh hampir basah keseluruhan, ia sama sekali tidak menggubrisku. Aku bagaikan patung baginya bahkan mungkin ia menganggapku tidak ada. Tinggal kami berdua dihalte ini, orang lain sudah naik bis tujuan mereka masing – masing.

Suasana diantara kami masih canggung dan yang terdengar hanya suara gemericik air hujan dan bisingnya kendaraan yang lewat. Tiba – tiba aku merasa sesuatu menyentuh pundakku dan kulihat David sedang menyodorkan bungkus makanan yang ia bawa. Kebetulan sekali aku sedang lapar dan kumasukkan tanganku kedalamnya dengan penuh rasa syukur.

“Makasih,” kataku singkat.

Ia mengangguk dan kembali pada zonanya sendiri. Suasana kembali hening.

“Hei. Sepertinya aku pernah melihatmu disuatu tempat tapi dimana ya?” ia memulai

percakapan.

“Oh, aku pernah melihatmu di  café Le Blanc. Aku juga melihatmu waktu payungmu…..”

kalimatku terputus oleh tawaku.

“Kau melihatnya?” tanyanya dengan wajah pucat.

Aku mengangguk dengan sisa – sisa tawaku.

“Tolong jangan ceritakan kejadian itu pada siapa aja,” katanya dengan nada memohon.

Aku tertegun. Bagaimana mungkin seorang David yang sangat menjunjung tinggi martabatnya

memohon pada seseorang.

“Please. Jangan beri tau siapa aja, kejadian itu benar – benar memalukan. Aku akan melakukan

apapun sesukamu asal kamu tidak membocorkan masalah itu,” pintanya sekali lagi.

What? Ia memohon sekali lagi? It’s not David style.

“Ok.  Simple kok. Aku pengen kamu bergaul sama temen – temen yang lain. Udah gitu aja,” kataku santai.

Ia terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk.

“ David,” katanya sambil menyodorkan tangannya.

“Kara,” kujabat tangannya dengan senyum tipis.

“Kamu teman pertamaku disini,” katanya tiba – tiba.

“Oh ya? Makanya mulai besok jangan diem aja atau di perpus terus. Kamu gak bisa hidup tanpa orang lain,” cerocosku.

“Minta nomermu,” katanya sambil menyodorkan Samsung Galaxy SIII miliknya.

Wow! SIII, saudara – saudara. Dengan penuh kekaguman kutuliskan nomerku disana.

Drrt, drrrt, drrt.

Kuraih davisku dari kantong dan kulihat rentetan nomer disana.

“Itu nomerku.  Save ya,” katanya dengan senyum manisnya yang mampu mengalahkan

senyuman Gilang yang kuanggap paling manis selama ini.

Kulihat hujan sudah reda.

“Aku pulang dulu ya, hujan udah berhanti nih.  Bye!” kataku dengan senyum termanisku lalu berlalu pergi.

Ah, akhirnya aku bisa berbicara dengannya. Aku harap dapat menjadi teman dekatnya. Kalau bisa lebih dari itu. Apakah mungkin?

***

Setelah kejadian di halte itu, ia menjadi sosok orang yang berbeda. Lebih ramah dan tidak merasa dirinya pintar lagi. Kepribadiannya berubah 99,9%. Belakangan ini aku menjadi semakin dekat dengannya tapi tentu saja aku tak pernah lupa dengan sobat lamaku, si Gilang. Kami menjadi tiga serangkai sekarang ini dan aku senang sekali.

Hari ini hujan turun lagi dan semuanya menjadi lebih baik saat hujan turun. Tadi aku merasa sedikit galau tapi rasa itu sedikit demi sedikit hilang bersama air hujan. Apalagi keberadaan David disampingku membuat hidupku lebih indah. Dan setiap mata kami bertemu jantungku selalu berdetak lebih cepat. Persis sama saat aku pertama kali melihatnya di café.

“Cil, pulang sama aku yuk. Aku lagi gak ada acara,” tanya Gilang mengangetkanku.

“Ra. Mmm, mau pulang bareng aku gak? Aku pengen tau rumahmu dimana,” tanya David

setelahnya.

Aku harus gimana? Aku tak bisa menolak ajakan dari mereka berdua.

“Aku pulang sendiri aja. Kalian kalau mau pulang duluan aja. Lagian aku mau ngerjain tugas dulu di perpus,” kataku menolak mereka dengan halus.

“Gak apa. Aku bisa nunggu kamu kok,” kata David dan Gilang bersamaan.

Mereka berdua saling bertatapan beberapa saat. Lalu Gilang terlihat mengetik sesuatu di Hpnya.

“Sorry, cil. Mamaku baru aja sms kalau dia minta dijemput. Maaf banget ya. Kapan – kapan aku bawa mobil deh. Duluan yah,” ia melambaikan tangannya lalu segera berlalu dengan larian kecil.

“Vid, aku ke perpus dulu ya. Kamu pulang duluan aja,” kataku lalu segera beranjak pergi dari tempatku berdiri.

Sebenarnya tadi itu hanya alasan supaya aku tidak pulang bersama David dan Gilang. Belum jauh aku berjalan, David menarik tasku.

“Udah ngaku aja kalau gak mau pulang bareng aku sama Gilang. Gak usah pake alasan ngerjain tugas segala. Jujur aja,” katanya dengan wajah lucu menyelidik.

“Ehe.. Kok kamu tau sih? Akukan gak mau ngerepotin kalian,” kataku membela diri.

Ia hanya tersenyum. Lalu terdengar suara petir menyambar dan angin berhembus kencang.

“Gimana? Mau pulang bareng aku gak?” tanyanya dengan lagak seorang pahlawan.

Aku mengangguk. Dinding yang kubangun dengan hati – hati akhirnya runtuh.

Selama diperjalanan kami berdua membisu hanya suara gemuruh petir dan hujan yang terdengar bersama dengan suara klakson kendaraan yang tak sabar menunggu karena macet menjebak .

“Ra. Aku mau tanya. Boleh gak?” tanyanya tiba – tiba dan itu pertanyaan bodoh pertama yang kudengar dan keluar dari mulutnya.

Aku mengangguk.

“Mmm, dengerin lagu ini deh,” iapun menyodorkan sepasang  headset padaku dan terdengar sebuah lagu yang pernah aku dengar diradio.

Hanya satu kalimat yang membuatku tertegun dibuatnya dan membuatku menatap David dengan tatapan bertanya – tanya.

Just be my girlfriend, my girlfriend, my girlfriend, my girl.. Be my girlfriend, my girlfriend, my girlfriend, my girl.. You my dreams that comes true, I’m so glad I found you..

Kulepaskan headset yang ada ditelingaku dan mencoba menenangkan jantungku yang berdebar begitu cepatnya. Aku tidak bisa menebak isi hati David sekarang ini, ia terlihat sangat santai seperti tidak terjadi apa – apa.

“Bagus gak lagunya? Judul lagunya Girlfriend yang nyanyi Jay Park. Aku suka banget sama lagu itu,” David angkat bicara.

Jalanan terlihat lebih lengang dan akhirnya mobil ini dapat bergerak sedangkan hujan masih deras mengalir. Aku sendiri masih tidak “ngeh” dengan arah pembicaraannya.

“Mau gak jadi pacarku?”

Tiba – tiba kudengar suara decit rem diinjak dan suara benda pecah. Hal terakhir yang kulihat David tersenyum padaku. Dan semuanya menjadi gelap.

***

Dipangkuanku terdapat satu toples besar penuh cemilan yang siap aku habiskan. Kunyalakan TV lalu mencari – cari channel yang menarik. Kartun. Sinetron. Gosip. Film. Dan kutemukan channel yang menayangkan headline news dan kutemukan diriku terus menonton berita yang ditayangkan. Sangat tidak biasa.

“Headline news selanjutnya datang dari sebuah kecelakaan kendaraan antara sebuah mobil dengan truk. Mobil ini ditumpangi oleh dua anak SMA yang keadaannya kritis dan saat ini sedang dirawat secara intensif dirumah sakit terdekat,” tutur sang penyampai berita.

Lalu diperlihatkan gambar mobil yang dilindas truk, keadaannya benar – benar hancur. Dan kulihat gantungan gitar dikaca  dashboard  yang telah remuk dan itu adalah milik mobil David. Lalu diperlihatkan korban yang sedang dirawat dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang sedang terbaring lemah diatas bed. Wajah mereka sangat akrab dalam memoriku. Segera kupacu FUku menuju rumah sakit tersebut secepat yang aku bisa.

***

Segera kularikan kakiku menuju IGD dan kubertanya pada salah satu suster disitu. Setelah mengetahui dimana mereka berdua dirawat cepat – cepat aku berlari kesana. Jantungku berdetak begitu cepat, apalagi yang jadi korban sahabatku David dan Kara yang sudah lama aku suka. Kubuka pintu perawatan perlahan dan kulihat mereka sedang terbaring dengan infus ditangan mereka. Salah satu tangan Kara digips dan terdapat luka didahinya, sedangkan David memiliki lehernya digips begitu juga dengan kedua tangan dan kakinya.

“Maaf, anda keluarga salah satu dari mereka berdua?” tanya seorang dokter yang tiba – tiba berada di belakangku.

“Saya sahabat mereka berdua, dok. Keluarga yang cowok tidak disini karena ia siswa pertukaran pelajar disini dan orangtua yang cewe sedang ada diluar negri,” jelasku pada dokter.

“Bisa bicara diluar sebentar?” sku segera mengikuti dokter tersebut.

Ia menggiringku masuk kedalam ruangannya.

“Jadi sahabat anda yang cowok mengalami patah tulang yang parah dan mengalami pendarahan yang hebat didalam. Dan kita harus segera mencarikan donor darah untuknya dalam kurun waktu 2 x 24 jam. Jika tidak nyawanya tidak akan tertolong sedangkan sahabat anda yang cewek baik – baik saja hanya saja patah tulang di tangannya,” jelas sang dokter.

Aku keluar ruangan tersebut dengan hati gamang apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan nyawa sahabatku sendiri dan yang ternyata orang yang disukai oleh Kara. Aku ingin membuat Kara bahagia. Segera kupacu FUku menuju PMI terdekat dan semua persedian darah untuk golongan darah David kosong. Kucari dirumah sakit – rumah sakit seluruh kota dan hasilnya nol besar. Entah mengapa aku merasakan sebuah rasa emosi yang berkobar – kobar didalam hatiku mengingat sekarang sudah hari kedua dan aku belum menemukan setetes darahpun untuk David.

Tiba – tiba handphoneku berdering dan seluruh tenagaku hilang lenyap saat telepon itu terputus. David meninggal.

***

Baru saja kuketahui bahwa David pergi. Bukan pergi kerumahnya tapi pergi ke Surga. Aku belum sempat menjawab pertanyaannya dulu. Pertanyaan yang tak terjawab itu bagaikan pisau yang menyebabkan luka yang dalam dan perih. Dan mengapa kau pergi sangat tiba – tiba? Aku baru saja mengenalmu dan aku baru saja akan menjawab pernyataan cintamu tapi mengapa Tuhan berkata lain?

Biarkan hujan ini menjadi penggantimu. Setiap tetes airnya bagaikan sentuhan tanganmu saat menggenggam tanganku. Terpaan angin bagaikan senyummu yang manis. Bau tanah basah bagaikan aroma parfurmmu yang sangat kusukai. Dan hujan sendiri bagaikan suasana hatiku yang galau karena kau tinggalkan aku untuk selamanya.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: