My Childhood


childhood

Tiba – tiba aku teringat tentang aku yang dulu. Aku yang masih duduk dijenjang pendidikan TK dan SD. Aku yang masih polos dan lugu. This is my story.

Sejak aku kecil aku cinta mati dengan dunia kepenulisan. Itu sudah menjadi habbit’ku untuk menulis. Kumpulan paragraf yang disusun dengan sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi sebuah cerita yang dapat dinikmati, itulah makananku. Berawal dari sebuah habbit membaca yang papa gencar canangkan tiap harinya. Papaku sering sekali meminjamkan novel dari perpustakaan kantor. Novel pertamaku dulu adalah buku terjemahan dari seorang penulis cerita anak – anak kondang–Enid Blyton yang berjudul “The Famous Five” atau judul bahasa Indonesianya “Lima Sekawan”. Aku menjadi orang yang addicted sama novel seri satu ini hingga pada suatu hari aku harus menerima kenyataan bahwa 21 buku seri “Lima Sekawan” ini telah ludes kubaca.

Lalu aku berlanjut ke karya Enid Blyton lainnya judulnya “The Five Find the Outers” atau lebih dikenal dengan “Pasukan Mau Tahu”. Dalam novel ini bisa dikatakan aku menjadi fans berat seorang tokoh bernama “Fatty”, dia seorang tokoh yang begitu songong tapi ia juga memiliki sebuah keahlian yang mengagumkan. Aku suka sekali waktu dia disekap di sebuah ruangan lalu ia meminta pada sang penculik untuk menulis surat pada teman – teman “Pasukan Mau Tahu” lainnya. Ia meminta pada sang penculik selembar kertas dan bolpen yang sudah mati, si penculik mencemooh Fatty karena bagaimana bisa ia menulis surat dengan bolpen mati? Memang bukan Fatty jika ia tidak punya banyak akal, ia menuliskan surat untuk teman – teman “Pasukan Mau Tahu” lainnya dengan mencelupkan ujung bolpen kedalam sari lemon. Aku lupa tepatnya ia mendapatkan sari lemon tersebut darimana, but, he is a brilliant person. Untuk membaca tulisan “tak terlihat” tersebut, kertas yang telah ditulisi disetrika sehingga muncul tulisannya. Aku begitu terpesona dengan trick Fatty tersebut. Aku juga sempat membaca serial misteri Agatha Christie, Sapta Siaga, dan Sherlock Holmes.

Yah, begitulah masa kecilku diwarnai dengan berbagai tokoh fiksi yang sempat membuatku bermimpi untuk menjadi seorang detektif. Suatu hari aku tiba – tiba teringat tentang impian masa kecilku dulu dan itu membuatku terbahak. Aku dulu ingin menjadi seorang pelukis (karena kakek dan pakdhe adalah seorang seniman), seorang penyanyi (karena mama adalah seorang singer di gereja), dan seorangĀ  penari (yang satu ini lupa karena apa).

Memang masa kecil adalah masa paling indah dimasa hidup manusia. So don’t waste your childhood, nikmati saja ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: