Essay 2500 Kata


//

Essay 2500 Kata

by Cynthia Deavy Firstiana

So, ini adalah essay yang aku bikin waktu awal ekskul jurnal kemarin sebanyak 2500 kata. Bisa dikatakan aku bekerja cukup cepat untuk projek ini karena aku udah menyelesaikannya D-1 dikumpulkan sedangkan yang lain baru D-Day mengumpulkan. This is it.

//

Sejak aku kecil aku sudah banyak mengenal cerita – cerita dan dongeng – dongeng dari negeri orang. Mulai dari Cinderella, Dalmation 101, Humpty Dumpty, Princess and the Frog, The Swan Lake, Tumblelina, Rapunzel, The Red Riding Hood, Dumbo, Tooth Fairy, sampai kisah paling kondang sepanjang masa dikalangan anak – anak di seluruh dunia kita ini. Kisahnya bercerita tentang seorang bapak bertubuh gempal dan overload yang memakai pakaian tebal berwarna merah dan putih seperti bendera Indonesia dan memberikan hadiah – hadiah kepada seluruh anak – anak didunia dalam waktu semalam saja dengan kereta terbangnya yang ditarik para ruddolf atau rusa. Siapa lagi kalau bukan Santa Clause. Semuanya kuketahui langsung dari mulut orang tuaku yang menceritakannya setiap malam sebelum aku tidur ataupun disaat senggang.

Waktu itu papaku membeli satu pak buku cerita bergambar dengan kata – kata yang masih sangat amat sederhana. Karena papaku adalah guru bahasa Inggris maka buku itupun juga berbahasa inggris. “The little dog have two balls”, “They were very happy”, itu salah dua kalimat yang ada di buku tersebut. Sejak kecil aku sudah diajarkan bahasa oleh orangtuaku, terutama oleh papaku. Kata – katanya simple saja, seperti “Bird” ketika ada burung lewat, “Go away!” ketika ada cicak lewat.

Aku begitu bersemangat saat papaku mulai menyetel VCD kesayanganku. Judulnya Magic English. Disitu tokoh – tokoh ciptaan Disney berkumpul menjadi satu dan mengajari kita berbahasa Inggris. Mulai dari menari bersama, menyanyi bersama atau bisa dibilang karaoke, mencari gambar yang hilang, menghafal kosa kata singkat, dan dulu aku begitu suka pada bagian menyanyi. Lalu tokoh favoritku adalah Mickey Mouse bersama Minnie, karena mereka sangat lucu.

Saat aku SD nilai bahasa Inggrisku bagus – bagus semua dan aku bersyukur atas bimbingan papaku. Aku juga sering sekali menulis dihalaman paling belakang catatanku dimana teman – teman lain lebih suka mencorat – coret dan menggambarinya. Aku seiring dimarahi mamaku karena boros tapi ya mau bagaimana lagi, hal itu sudah menjadi sebuah habbit bagiku dan sulit untuk ditinggalkan. Yang aku tau mamaku hanya bisa mengelus dada. Setidaknya apa yang aku lakukan itu adalah sebuah perbuatan yang menjorok keposisi positif.

Mmm, seiring bertambah dewasanya diriku, ilmu yang kupelajaripun bertambah. Dongeng – dongeng dan cerita – cerita yang dulunya hanya aku dengar dari mulut orangtuaku kini bisa kulihat sendiri melalui imajinasi disaat aku membaca kisahnya dibuku. Semuanya menjadi lebih indah saat aku membacanya sendiri, lebih berwarna, dan lebih hidup. Aku lebih bisa mendalami karakter masing – masing tokoh. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk membuat dunia dongeng versiku sendiri.

Dengan tulisan yang masih mirip dengan ceker ayam dan ukurannya masih mirip dan serupa dengan para raksasa – raksasa di negeri dongeng, aku menuliskan semuanya dalam selembar kertas. Awalnya hanya 1 paragraf dengan kosa kata yang berantakan hingga 1 paragraf dengan kosa kata yang sudah mulai bagus dan tertata. Aku bersyukur di rumahku yang tercinta kehadiran sebuah komputer baru sehingga aku bisa menuliskan apa yang ada dipikiranku dengan leluasa tanpa takut orang lain tidak bisa membaca tulisan – tulisanku yang notabene masih acak – acakan dan amburadul. Orangtuaku sangat mendukung apa yang aku lakukan dan itu membuatku semakin semangat untuk terus berkarya sampai sekarang ini.

Jika mengingat masa itu, sebuah senyuman terbit dari bibirku. Betapa besar dukungan yang telah orangtua berikan padaku selama ini. Bagaimana mereka mengajarku dari nol. Dari aku yang tidak tau apa – apa bisa tau apa – apa. Kemampuanku benar – benar menjadi kebanggaanku saat ini.

Untuk meng-improve kemampuanku, aku memutuskan untuk masuk kesebuah ekskul yang benar – benar sudah lama aku impikan. Senang sekali rasanya dapat mengambil bagian di ekskul tersebut. Meskipun jujur saja butuh banyak perjuangan untuk menjadi anggota resminya. Tapi karena aku sudah berkomitmen berada diekskul tersebut, itu semua tidak akan menjadi masalah. Asalkan kita senang dan gembira walaupun ada badai ataupun hujan meteor datang menerpa kita pasti dapat menjalaninya.

Ekskul itu bernama Jurnalistika MABOSA. Ekskul yang menjadi alasanku masuk di SMA BOSA. Ekskul yang selalu membuatku semangat dan bahagia. Ekskul yang telah membantuku meng-upgrade diri. Aku merasa ekskul ini telah mengubahku menjadi seorang anak yang benar – benar berkualitas dan bukanlah seorang anak yang sama dengan anak – anak lain. I’m totally different person ketika aku ada diekskul ini, ekskul jurnal.

Mulai dari pelantikan, pengukuhan, makrab, studi banding, sampai dengan rekoleksi aku mengikutinya dengan semangat ‘45 yang menggebu – gebu tiada tara. Anggota baru jurnal tahun kemarin yang mendaftar untuk pertama kalinya mencapai sekitar 50an anak lalu setelah kata Pelantikan dikumandangkan hanya 33 orang yang tersisa. Lalu berlanjut disaat kata Pengukuhan dikumandangkan hanya tinggal 23 anak saja yang bertahan. Jumlah anggota baru Jurnalistik terus berkurang seiring berjalannya waktu. Diaat terakhir – terakhirpun masih ada juga anak yang keluar dari ekskul ini.

Gak usah jauh – jauh yang tahun kemarin, yang tahun ini benar – benar mengejutkan dan membuatku termenung – menung. Dari 80an anak yang ikut pelantikan cuman 20 anak. Wow banget tapi aku sendiri juga maklum karena kegiatan mereka sekarang padat dengan adanya kurikulum baru 2013. Setidaknya 20 anak ini diharapkan benar – benar komitmen ada diekskul jurnal dan bertahan sampai akhir nanti. Lalu tidak ada yang ditengah – tengah nanti tiba – tiba keluar karena alasan yang aneh – aneh.

Aku sendiri sering bertanya – tanya mengapa mereka yang angkatanku bisa dengan mudahnya hengkang dari ekskul ini, apalagi ada yang keluar dengan cara yang amat sangat tidak terhormat. Bukankah mereka telah melewati banyak hal di jurnal ini, tapi mengapa mereka masih saja dengan mudahnya keluar, enteng sekali. Aku akui memang tidak mudah berada diekskul ini. Ekskul ini bukanlah ekskul yang hanya sekedar datang, ngobrol, ngegosip, lalu pulang. Tapi ekskul ini adalah ekskul yang benar – benar memiliki mobilitas tinggi.

Sebagai ekskul yang menjadi salah satu bagian ujung tombak BOSA dalam hal promosi dan yang menjadi kebanggaan BOSA, kita memang harus bekerja super keras. Untuk menggarap sebuah majalah yang berkualitas, para redaksinya juga harus berkualitas dan berkomitmen. Jadi kalau dilihat dari sudut pandangku sendiri, dari pelantikan sampai rekoleksi bagaikan sebuah saringan yang makin lama makin kecil lubang – lubangnya. Yang nantinya akan menghasilkan anggota – anggota dan redaksi yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi. Dan juga memiliki vitalitas atau semangat juang yang tinggi juga.

“Kalian adalah orang – orang terpilih karena kalian tetap bertahan dititik ini,” kata salah satu kakak senior disalah satu sesi di acara jurnal, acara apa itu aku lupa. Ucapannya itu benar – benar melekat dimemoriku. Mengingat perjalanan dari awal saat aku memutuskan untuk mengisi formulir pendaftaran jurnal sampai sekarang aku menjadi anggota senior di jurnal tidaklah mudah. Kalimat itu benar – benar memotivasiku disaat aku lelah dan membuatku semangat lagi. Kalimat itu bagaikan obat pembangkit semangat bagiku.

Lalu aku juga bersyukur masuk jurnal karena jika aku tidak masuk jurnal aku tidak akan pernah merasakan jamu yang terkenal karena rasanya yang super pahit itu. Mama berulang kali bilang padaku dikala aku kesal dengan nyambuk – nyamuk nakal yang berusahan menyantap darahku untuk meminum jamu itu. Dan aku tidak pernah mengira akan mencoba minuman pahit macam itu di ekskul ini, ekskul jurnal. Sejak aku masuk jurnal aku sudah minum 2 gelas minuman pahit bernama Brotowali ini. Rasanya pahit kuadrat api sehabis itu ada efek samping yang benar – benar menguntungkan, untuk beberapa hari kedepan tubuhku tidak menjadi santapan nyamuk. *thanks for jurnal❤❤ <3*

Hal yang paling aku syukuri setelah masuk jurnal adalah aku sekarang lebih bisa ngomong sama orang lain terutama didepan orang yang sama sekali belum aku kenal. Belajar telepon contact person artis yang kadang menyebalkannya hingga tingkat dewa hingga mewawancarai artis yang sombongnya tingkat dewa juga. Disini kemampuan berbicaraku banyak ter-improve. Aku versi yang lama a.k.a jadul kalau ngomong sama orang pasti udah gemeter dan gak tau mau ngomong apa padahal diotak semua udah ditata rapi – rapi dengan baij. Aku versi yang sekarang a.k.a baru setelah ikut jurnal jadi lebih berani ngomong sama orang lainwalaupun kadang masih keringetan, terutama saat berhadapan dengan orang yang diwawancarai / narasumber.

Saat masuk ekskul jurnal pertama kali dan melihat MABOSA untuk pertama kalinya ekspresiku kayak gini : 0_0 Super duper keren nan kece banget. Selama ini jujur saja aku belum pernah sekalipun membaca majalah sekolah dan lebih sering membaca majalah yang udah femes a.k.a famous atau terkenal dikalangan remaja. Yah, contohnya aja ada Kawanku atau Gadis. Aku rasa MABOSA udah hampir setara dengan mereka jika seluruh lembaran majalahnya berwarna dan cover depannya sedikit di upgrade lagi. Itu pasti udah TOP MARKOTOP banget.

Aku sendiri sampai sekarang ini masih belum bisa mempercayai kalau aku ini sudah ikut andil dalam pembuatan sebuah majalah yang notabene udah famous gitu. Kalau disuruh jujur sejujurnya, alasanku masuk BOSA karena ekskul jurnalistiknya. Kenapa? Karena dia ekskulnya aktif dan setiap tahunnya menerbitkan 3 buah edisi majalah yang kita sebut namanya sebagai, MABOSA. Bangga rasanya dapat menjadi satu bagian dalam sejarah pembuatan majalah ini. Sebuah majalah yang telah mengajariku banyak hal.

Aku menjadi seorang yang lebih bisa me-manage waktuku antara kewajibanku sebagai murid, anggota jurnal, dan redaksi pelaksana 3. Yah, walaupun kadang masih kecelik, jumpalitan, stress, bingung, gitu buat membagi waktu tapi aku masih bisa mengerjakan setiap kewajibanku dengan baik. Dulu aku yang orangnya annoying banget sekarang menjadi seseorang yang lebih dikenal. Jujur aja dulu aku benar – benar annoying, adek kelas gak kenal, kakak kelas gak kenal, teman seangkatanpun juga gak kenal. Yah, begitulah aku dulu sekarang tidak. Aku jadi sedikit kenal dengan orang – orang luar yang ada disekelilingku walaupun saya bukan dikatagorikan sebagai orang yang famous setidaknya aku tidak se-annoying dulu, udah gitu aja sih.

Waktu pertama kali dikasih tau akan ada acara pengukuhan aku amat sangat excited dimana anggota jurnal lainnya mengeluh dan akhirnya melepaskan diri mereka dari Jurnal. Begitu dijelaskan di MABOSA ada redaksi apa aja dan tugasnya apa aja, aku langsung memilih Redaksi Pelakasana 3. It’s sounds amazing. Aku sendiri heran kenapa anak – anak yan keluar dari jurnal enteng sekali. Setelah mereka melewati pelantikan yang begitu ekstrimnya lalu begitu ada pengukuhan mereka langsung keluar. Apa ya gak eman – eman?

Justru pengukuhan itu seru banget, yang waktu sesi wawancara itu gokil banget men. Waktu pos keberapa aku lupa, itu pos gila – gilaan. Aku ikut yang sesi pertama, kalau gak salah waktu itu hari kamis. Hari itu kelas 10 semuanya ada studi banding ke wisata kembang arum dan kita capek banget hari itu. Beberapa dari kita kelas 10 akhirnya mutusin buat ikut wawancara yang sesi pertama, walaupun sesi pertama itu dikhususin buat anak kelas 11.

Hari itu waktu sudah menunjukkan pukul 3 dan kita lesehan didepan kelas 3S1 (waktu itu). Rasanya capek banget tapi kalau dipikir – pikir kalau ikut wawancara hari jumatnya pasti membludak. Pos 1 yang jaga kak Thea dan kak Thea baaiiiiiiiik banget, kita yang kelah 10 yang mukanya udah berminyak gini didahuluin. Terus lanjut kepos 2 yang jaga kak Kevin disitu kita disuruh bikin puisi yang temanya aneh – aneh. Aku waktu itu bikin tema upil dan disuruh baca ditengah lapangan, untungnya aja waktu itu udah sepi.

Terus dipos 3 kita disuruh bikin cerpen dan yang jaga waktu itu tu kak Hans dan tiba – tiba aku kepikiran buat bikin sebuah cerpen mini tentang betapa hoamnya pelajaran pak Pipit. Begitu kak Hans baca cerpenku dia langsung ngakak, yah, setidaknya aku sudah berusaha. Terus lanjut kepos 4, waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Waktu kita masuk pos 2 orang teman kita sudah berlinang air mata, sebenernya pos apa ini. Ternyata pos ini pos cinta jurnal jadi kita harus gila – gilaan kalau bisa sambil guling – guling dibawah pohon beringin sambil teriak – teriak kayak orang gila yang sudah benar – benar gila segila – gilanya.

Dan betapa bersyukurnya aku kakaknya yang jaga pos berbaik hati dan menyuruh kita pulang dan melanjutkan keesokan hari ini, kalau gak salah yang jaga pos waktu itu kak jova sama kak dimas (?) Bener aja besoknya antrian membludak kalau mau tau kayak apa, antriannya tu kayak orang lagi antri beli tiket di bioskop film – film kece macam Iron Man 3, 2012, Man of Steel, atau yang paling baru Pasific Rim. Antrian paling banyak diposnya kak kevin aku lupa pos berapa, tapi yang pasti antrian menumpuk dipos itu.

Karena aku kemaren sudah mendahului jadi saya berakselerasi kepos 4. Hoye! Waktu kak wisnu sama kak elmo duluan buat gila – gilaan dan misinya kita harus bikin kak jova dan kak dimas ketawa. Bener aja, merek tu benar – benar gila dan kayak gak punya malu. Mereka berdua nari Heavy Rotation sambil muterin kelas dan kita satu tempak ngakak, benar – benar PECAAH!

Giliranku sama axcella maju dan itu benar – benar krik, krik, krik dan ekspresi kakaknya tu kayak gini -____- Tapi aku bersyukur banget dibalik tampang datar kak jova dan kak dimas mereka masih punya hati nurani yang baaiiiiik banget. Kakak berdua itu meloloskan kita walaupun krik, krik, krik buat lanjut kepos selanjutnya. Pos 5 itu pos terakhir dan yang jaga kak nicho, aku udah panas dingin nunggu diluar buat masuk dan akhirnya masuk juga aku kedalam posnya kalau gak salah waktu itu dikelas 3A4. Dan semuanya itu jauh dari perkiraan terburukku, disitu kak nicho kalem banget.

Yah, intinya disitu kita ditanya kita di MABOSA bakal milih jabatan apa dan aku bilang redaksi pelaksana 3. tiba – tiba done! Yah itu sekelumit ceritku waktu wawancara pengukuhan dan itu F – U – N banget. Intinya mau digimana – gimanain aku dijurnal aku bakal kuat karena apa? Aku udah komitmen dan jurnal udah ngajarin aku banyak hal yang gak akan terima dari ekskul manapun. Jadi intinya aku bersyukur banget masuk ekskul ini. Ekskul Jurnalistika.

Sekarang aku heran kenapa banyak banget anak – anak yang memutuskan untuk keluar dari ekskul jurnal. Sebenernya dari setiap acara jurnal tu seru semua, asik, dan gokil abiis. Misalnya pelantikan, yang tadinya belum kenal jadi kenal. Pengukuhan, bikin aku tambah ngerti apa itu MABOSA. Makrab, kita jadi tambah deket satu sama lain sesama anggota jurnal. Studi banding, buat menambah ilmu kita dengan terjun langsung kelapangan dan yang terakhir rekoleksi, persiapan untuk redaksi baru untuk menjadi redaksi lama yang berakhlak dan bermatabat.

Mereka udah capek – capek ikut pelantikan terus tiba – tiba, BOOM! Mereka keluar jurnal, apa gak sia – sia mereka ikut pelantikan? Kalau mau keluar setelah tau ada pengukuhan gitu ya mending gak usah ikut pelantikan aja dari awal. Setidaknya itu mudah buat mereka dan mereka gak usah buang – buang tenaga untuk ini semua. Lalu kenapa konsekuensi tidak dijalankan? Tapi jujur aja aku udah lupa dulu waktu pelantikan aku nulis konsekuensi apa yang penting sampai sekarang aku masih di jurnallah.

Ada satu anak yang keluar dari jurnal dan denger – denger kalau dia nulis konsekuensi bakalan ke Amerika, kalau gak salah. Sekarang dia sudah lepas dari jurnal sampai sekarang dia belum sampai Amerika tu. Lucu banget. Terus yang dulunya adalah mantan anak jurnal dengan santainya ikut studi banding jurnal. Haduh, ketawa aku. Kok ya gak malu ya?

Tapi ya itu semua juga sudah menjadi keputusan mereka masing – masing, mungkin dulu mereka pertama kali masuk masih menggebu terus sekarang sudah berkurang bahkan hilang. Yang terpenting dari semuanya adalah masih ada orang – orang yang setia dan berani berkorban buat jurnal. Buat menjunjung harga diri Jurnal dan sekolah kita tercinta ini, SMA BOPKRI 1 Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: