ICED CON FEN


confidence

ICED CON FEN

an anagram from confidence

Aku tak pernah menyukai apa yang orang katakan tentang diriku. Mereka selalu menganggapku dewa atau semacamnya. Dengan mata berbinar, senyum lebar, dan wajah tersipu malu mereka memujiku, Imut. Atau berbagai sebutan yang bersifat sangat feminim. Apa sebenarnya yang salah denganku? Aku sungguh tak mengerti apa yang mereka lihat dari parasku.

Aku selalu berusaha menampilkan senyum tersamarku untuk membuat mereka menjauh dariku, namun taktik itu malah membuat mereka semakin penasaran denganku. Mereka bilang senyum samarku terlihat cool dan melting dimata mereka. Aku tak habis pikir dan frustasi. Ingin rasanya mencabik wajah ini dan menghancurkannya sehingga tak ada lagi orang yang mengerubungiku kemanapun aku pergi.

Ok. Mungkin aku memang terlihat jahat, namun aku bukan tipe orang yang haus akan ketenaran. Aku memang bersyukur memiliki paras yang dapat dibilang diatas rata – rata, hanya saja aku tak tahan dengan sikap orang – orang padaku. Mereka selalu menguntitku kemana – mana dan tidak memberiku satu celah privasi untukku.

Dikala misi melarikan diri dari orang – orang aneh tersebut, tiba – tiba aku teringat bahwa gedung selatan sekolah akan direnovasi dan dalam proses pembongkaran. Dengan langkah cepat kubawa diriku menuju kesana dan that heavenly feel muncul ketika menemukan gedung tersebut sunyi. Rasa lega merayapi tubuhku dan membawaku masuk kedalam gedung. Design gedung ini hampir sama dengan gedung yang ada diutara, hanya saja gedung ini terlihat lebih klasik. Entahlah.

Aku menemui sebuah ruang kelas yang pintunya terbuka lalu kuputuskan untuk menengok seperti apa bentuk kelas digedung selatan ini. Aku kaget. Ruangan ini bukanlah ruang kelas melainkan ruang latihan. Kaca – kaca besar menempel disepanjang dinding ruangan tersebut dan lantainya terbuat dari kayu khas ruang latihan. Suara langkahku menggema diruangan ini hingga terdengar berdebam keras disertai getaran yang cukup besar lalu sejurus kemudian debu – debu mulai memasuki ruangan melalui pintu yang terbuka.

Tiba – tiba suara seorang berlari mengagetkan indera pendengaranku lalu kemudian aku menjadi tak sendiri lagi diruangan ini. Ia terlihat kaget ketika menyadari keberadaanku disini lalu kembali tenang dan duduk bersandar disalah satu sisi dinding berkaca tersebut.

   “Melarikan diri dari fansmu, hah?”, katanya sambil menyeka keringat didahi dengan salah satu tangannya.

Aku tak menjawab, yang kulakukan hanya berdiri tegap dan memasukkan kedua tanganku pada saku celanaku. Aku tak tau harus berbuat apa dengan orang ini.

   “Sekarang kau mencoba bertingkah cool ditempat seperti ini. Tak akan ada gadis – gadis gila yang akan berteriak senang saat kau melakukan itu”, katanya sambil menunjuk kedua tanganku yang berada dalam saku.

   “Apa yang kau lakukan ditempat ini? Tempat ini milikku. Cepat pergi sebelum para gadis gila itu menghancurkan tempat ini setelah bola penghancur sialan itu”.

Tanpa pikir panjang aku segera keluar dari ruangan terkutuk itu. Bukannya mendapatkan ketenangan malah mendapat sambutan dari orang asing yang menganggap ruangan itu miliknya. Seperti aku akan mengambil ruangan itu darinya. Cih.

***

Mungkin bujukan setan telah memengaruhiku saat ini dan membuatku mengunjungi gedung selatan sekolah saat hari telah menjelang malam. Tentu saja pada jam ini aku tak akan dikelilingi oleh gadis – gadis yang akan meneriakiku dengan tatapan terkagum – kagum, namun aku harus tetap waspada mengingat sifat ingin tahu mereka yang sangat tinggi.

Jujur saja, aku bertanya – tanya mengenai sosok ketus yang ada pada ruang latian siang itu. Ia berlagak seperti pemilik ruangan itu dan ia tau siapa aku. Apakah aku begitu dikenal orang sehingga orang asingpun mengenaliku?

“Unconditional.. Unconditionally.. I will love you unconditionally..”

Suara khas Katy Perry terdengar samar ketika aku sampai didepan gedung dan semakin jelas ketika aku sampai didepan ruang latihan. Aku melihat sebuah sosok bergerak dengan indah dan membuat ruangan ini tampak terang meskipun hanya diterangi oleh 4 lampu emergency mungil disetiap sudut ruangan. Ia menari ditengah ruangan dan itu membuatnya menjadi pusat dari segalanya. Setiap gerakannya dapat menghidupkan lirik menjadi gerakan nyata.

Kulirik jam tanganku dan waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Aku menoleh kebelakang lalu mendapati lorong gelap dan perasaan spooky itu datang. Aku tak habis pikir kenapa aku berani waktu masuk tadi, mungkin karena suasana masih terang. Aku berhitung 1 sampai 3 lalu pada hitungan ke3 akan lari keluar. Tapi gagal. Seekor laba – laba–hewan yang paling kubenci, jatuh ditanganku dan membuatku berteriak.

   “Apa yang kau lakukan disana?” Sosok itu bertanya dengan nada ketakutan seperti sudah kedapatan mencuri.

Laba – laba sial. Harusnya aku sudah dalam perjalanan pulang saat ini dan bukannya berurusan dengan orang asing ini.

   “Kau melihat semuanya?” Tanyanya sekali lagi dengan keringat mengalir deras dari dahinya.

Aku mengangguk. Ia menghela nafas.

   “Aku tak perlu berbohong lagi. Kau sudah melihat semuanya,” ia terlihat tenang sekarang dan mulai meneguk air mineral dipinggir ruangan.

Aku hanya berdiri dengan wajah yang sulit untuk diinterprestasikan.

   “Hei apa yang kau lakukan disitu? Kemarilah sebelum ada laba – laba lain yang jatuh ditubuhmu,” ia tertawa ketika aku segera berlari menjauhi pintu menuju posisinya dengan wajah ketakutan.

   “So, perkenalkan aku Kim Jongin.”

   “Aku Yook Sungjae.”

Ia mengangguk lalu dengan segera canggung merayapi. Kami saling melirik satu samalain dan tak tau harus berbicara apa.

   “Apa yang kau lakukan disini? Tak takut dipergoki fansmu?” Aku terbahak mendengar yang ia ucapkan.

   “Aku penasaran dengan kau,” kataku dengan kepala tertunduk dalam.

   “Entahlah. Aku memang gila hari ini, penasaran dengan orang asing seperti kau,” lanjutku sambil memainkan tali sepatuku.

   “Kau membuat sebuah keputusan yang benar dan aku yakin kau tidak akan pernah menyesalinya.”

Kata – katanya membuatku tertegun, apa yang membuatku tidak menyesal jika melihatnya malam ini? Tiba – tiba ia menarikku ketengah dan dapat kulihat bayangan diriku di kaca dan aku adalah pusat dari segalanya saat ini.

   “Tutup matamu, tenang, dengarkan, dan biarkan musik membuat tubuhmu bergerak”.

Aneh. Aku menurut pada omongannya dan musikpun mengalun.

   “Here I am waiting, I’ll have to leave soon, why am I holding on”.

Daylight. Aku tau begitu nada pertama aku dengar.

BAM! Like a magic my body moves.

   “And when the daylight comes I’ll have to go. But, tonight I’m ‘gonna hold you so close”.

Tubuhku terasa ringan ketika tubuhku mulai bergerak. Aku tak mengerti mengapa tubuhku bisa seperti ini, I’m a bad dancer. Tapi malam ini aku berubah menjadi seorang profesional dancer. Aku seperti menemukan sisi diriku yang lain, aku sempurna malam ini.

Musikpun berhenti. Nafasku terengah dan keringat bercucuran. Kubuka mataku dan ujung bibirku tertarik sehingga membentuk sebuah senyuman. Tulus. Aku benar – benar tersenyum malam ini.

   “Kau hebat. Aku tak mengira kau akan sehebat ini. Cool!” Katanya sambil menepuk punggungku dan memberiku sebotol air mineral.

Kuteguk air dalam botol tersebut sampai habis dan sebuah senyum kembali menghiasi wajahku. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku yang membuatku terus tersenyum.

   “Bagaimana perasaanmu?” Ia bertanya lagi.

2 kata yang memiliki efek masiv bagiku saat ini. Berbagai perasaan seketika muncul dalam pikiranku dan aku tak sanggup mengungkapkannya.

   “Senang.”

Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutku saat ini lalu kulihat Jongin tersenyum.

   “Aku juga seperti kau dulu. Didalam diriku muncul berbagai perasaan dan aku tidak bisa mengungkapnya sehingga hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutku,” katanya dengan tersenyum dan tatapan menerawang.

   “Jongin-ssi. Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Dan siapa kamu?” Sebuah pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan semenjak aku selesai menari.

   “Hei panggil aku ‘Hyung’ saja, aku Kim Jongin. Kau bertanya siapa aku kan?”

   “Maksudku kenapa kau ada disini? Di gedung yang akan dihancurkan.”

   “Simple saja. Aku ingin kau berubah. Aku ingin membantumu menemukan rasa percaya dirimu.”

Oke. Orang ini berhasil membuatku terkaget – kaget hari ini.

   “Kau seharusnya bersyukur, banyak orang yang peduli denganmu. Kau tak perlu takutt dibully atau semacamnya, kau tidak usah mencoba bunuh diri karena lelah dengan tatapan sinis yang selalu diberikan orang – orang padamu,” raut wajahnya mulai berubah menjadi sedih.

   “Kau bersyukur hidup dalam sebuah keluarga yang berkecukupan dan semua kebutuhanmu tercukupi. Kau hidup dengan tubuh sehat. Kau tumbuh bersama keluarga yang masih lengkap. Kau seharusnya bersyukur dengan itu semua.”

Ia terisak.

   “Cukup untuk hari ini, pulanglah. Orangtuamu akan mencarimu.”

Tanpa ba-bi-bu aku langsung keluar dari ruangan tersebut dan berlari secepat – cepatnya. Who is that guy? Mengapa ia begitu peduli denganku?

Hah. Akhirnya aku bisa menyelesaikan sebuah cerita, sebenernya cerita ini belum selesai tapi udah macet ditengah jalan lantaran ide yang keburu ilang. Is it a good story? Aku gak begitu yakin tapi aku udah mengerahkan yang terbaik dicerita ini. Setelah nonton Reply 1994 dan baca Echantednya kak Dista aku jadi suka sama 2 orang ini, sekedar suka aja sih. Yah, jadilah cerita ini. Kalau boleh jujur cerita ini masih setengah mateng tapi gasnya udah keburu habis, ya jadi gini. So let me know your opinion about this fic. Feel free to comment and like😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: