Truth


***

Everyday everynight I have loved you
Everyday everynight everything about you
Forever and ever I won’t forget you, I can’t
You are still… on my mind

CNBLUE – Still

Aku amat menyukai lelaki itu lebih dari siapapun didunia. Hidupku benar – benar berubah ketika aku pertama kali bertemu dan mulai berkenalan dengannya. Cinta pertama, pacar pertama, ciuman pertama. Semua mimpi indahku terwujud ketika bersamanya, aku merasa seperti seorang putri. Hingga saat itu datang aku tak pernah menyadarinya. Aku terlanjur cinta denganmu sehingga tak sadar bahwa kau telah berubah banyak, kau tidak lagi memperlakukanku dengan hangat dan menganggapku seperti sebuah hama. Namun aku tidak pernah menghiraukan sifatmu yang sangat memuakkan, itu semua karena aku terlalu menyukaimu.

Malam itu kita berdua sedang berjalan beriringan menembus dinginnya malam, biasanya kau akan menggenggam tanganku dan berusaha menghangatkanku, namun malam ini semua berbeda. Sebuah jarak walau hanya terpaut beberapa sentimeter memisahkan kami, kedua tanganmu tersimpan disaku celanamu dan pandangan menatap tajam lurus kedepan. Tiba – tiba kau berhenti melangkah dan membuat kita berdua berhadapan lalu kau mengucapkan kutukan itu.

“Ayo kita putus”.

Ya, putus. Kau mengucapkan kata – kata terkutuk itu dengan ringan tanpa beban dan selepas mengucapkan kata terkutuk itu kau lantas berjalan meninggalkanku tanpa satupun kata perpisahan. Aku terdiam. Aku tak merasakan sakit, aku hanya merasa seperti dunia berakhir. Selama ini aku terlalu menyukaimu, bukankah itu adalah hal yang wajar untuk menyukai orang yang kau sukai? Suatu kali sepulangnya aku dari ekskul, aku melihatnya bersama perempuan lain. Perempuan yang jauh lebih tua dariku dan perempuan itu menempel lekat padamu. Tak ada jarak diantara kalian, sama persis seperti yang kulakukan padamu ketika kita masih bersama dulu. Tatapan kami bertemu cukup lama, cukup lama untuk tatapan seorang yang memutuskan pacarnya tanpa kata perpisahan. Lalu ia tampak mengambil ponsel dari sakunya ketika perempuan itu sedang membenarkan rambutnya yang menjuntai panjang dan sebuah pesan masuk dalam ponselku.

“Maaf. Aku tidak lagi menyukaimu, carilah lelaki lain untuk menemanimu”

Cepat – cepat kukirimkan pesan balasan untuknya.

“Brengsek!”

Itu adalah kata makian pertama yang aku lontarkan untuk orang lain. Ketika ia membaca pesanku ia hanya tersenyum simpul dan mengedikkan bahu lalu melanjutkan kembali perjalanan mesranya. Demi langit dan bumi, untuk pertama kali aku merasa hancur seutuhnya dan menjadi seperti butiran debu.

***

“Ayo cepatlah, kau harus merefresh otakmu yang sudah penuh dengan bayang lelaki sialanitu. Ayo, siapa tau kau menemukan seorang yang menarik”

Sore ini sahabatku—Sam berusaha menarikku dari percobaan hibernasi yang baru berlangsung 1 minggu. Aku lelah bertemu dengan orang – orang yang pada akhirnya nanti hanya akan menyakitiku.

“Ayo cepat!!”

Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti ajakan Sam sebelum ia benar – benar menarikku keluar lengkap dengan pakaian tidur dan tatanan rambutku yang seperti sarang burung.Setelah selesai makeup dan memilih outfit seperlunya akhirnya kamipun meluncur ketempat tujuan. Sepanjang perjalanan aku merenungkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi di pesta itu, mulai dari kemungkinan buruk hingga kemungkinan paling baik.

Here we are

Aku tak yakin dengan ekspresi wajahku saat ini, mungkin wajahku telah terlihat seperti orang dungu.

“Aku tau kau akan suka tempat ini. Ayo!”

Ketika keluar dari mobil kami disambut dengan jalan setapak panjang yang dihias dengan terowongan lampu lalu ketika sampai diujung jalan kami menemukan sebuah halaman besar dengan pohon – pohon terang dan meja dibeberapa sisi. Semua pohon disini dihias dengan pita warna – warni yang menjuntai panjang sementara dibeberapa dahan dipasang lampu neon yang mempercantik penampilan si pohon. Pandanganku beralih pada meja – meja bundar yang turut bersinar pula, meja – meja ini tertutup kain hingga bawah dan didalam kain tersebut terdapat lampu yang nyalanya tidak terlalu terang untuk menonjolkan pohon – pohon terangnya. It’s a great idea.

“Hey, tolong jangan pasang tampang tololmu itu. Jika kau terus memasangnya tidak akan ada lelaki yang tertarik padamu” hardik Sam ketika kami sedang mengambil minum.

“Tempat ini terlalu indah. Maafkan aku,” ucapku lalu menyesap minuman yang rasanya sangat unik.

“Tolong pasang ekspresi wajah terbaikmu karena mungkin kau akan bertemu seseorang yang menjadi jodohmu dimasa depan,” aku segera mendongak ketika Sam menyodok lenganku dengan sikunya sementara ia memasang wajah terkejut.

Seorang lelaki jangkung dengan pakaian putih bergaris – garis hitam, blue jeans, dan sepatu coklat menghampiri kami berdua. Jika perlu didramatisasi mungkin aku sudah megap – megap dan berkeringat dingin.

“Hei bro! Apa kabar?” lelaki itu menjabat Sam dan memberi pelukan singkat.

Oh my God! His voice get me melt.

“Pacarmu?” aku bagaikan disambar petir disiang bolong ketika mendengar pertanyaan bodoh itu.

“Ini Lisa, temanku yang paling lengket sedunia dan kenalin ini Joseph, temenku waktu magang dulu,” aku tersenyum dan menjabat lelaki bernama Joseph ini.

A lot of thanks for you, Sam!

Party ini kamu yang bikin konsep? Aku gak nyangka bakal ketemu kamu disini,” ujar Sam.

Sam mengenal Joseph?

“Aku ini bisa ditemukan dimana – mana selama kamu ada disiku,” lalu Joseph tertawa.

“Konsep party ini keren banget, aku suka dengan idenya. Sangat baru dan belum pernah aku temuin,” ungkapku dengan wajah penuh kekaguman terutama pada mahkluk didepanku ini.

“Aah, kamu bisa aja. Ini juga dapet recommend dari beberapa temen kok,” sangkal Joseph sambil mengusap – ngusap lengannya.

“Kebiasaanmu nih dari dulu, selalu merendah,” ujar Sam.

“Lho, emang kenyataannya gitu kok. Nih, ndah, hobi sobat lengketmu daridulu gak pernah berubah. Suka melebih – lebihkan segala hal”

Aku hanya mengangguk – angguk ala burung mendengar perkataannya. Aku telah tersihir.

“Gak usah didengerin kata – kata bualan dia. Udah sana pergi, hus, hus, hus. Terlalu banyak tamu yang perlu kamu urus”

Sam! Aku kecewa padamu. Kau seharusnya membiarkan sahabatmu ini menikmati ciptaan Tuhan yang paling indah ini lebih lama lagi.

“Aah, kamu memang partnerku yang paling mengerti aku. Duluan ya. Bye sis!” ia melambaikan tangan dan membalikkan badan menjauh.

Aku masih melambaikan tanganku meskipun ia telah berlalu.

“Jangan bilang kalau kamu suka sama Joseph! Ngaku kamu!” celetuk Sam sambil menarik – narik rambutku.

Sebuah hantaman yang cukup keras segera melayang pada dada sebelah kirinya. Aku bisa berubah buas jika sudah berhubungan dengan orang ini.

“Kamu minta maaf sekarang!”

Oke, dia mulai merajuk.

“Eh, ada yang ngambek. Maafin aku sayangku,” aku segera menggamit lengannya dan berakting manja. Ini adalah jurus paling ampuh untuk meluluhkan hatinya.

“Astaga, rayuanku yang berharga 1 milyar dolar ditolak gitu aja. Aku cariin cowok ganteng, deh”

BANG! Plan B berhasil. Sam kembali tersenyum. Siapa yang mengira manusia nan rupawan disebelahku ini adalah penyuka sesama jenis. Bagi perempuan manapun yang melihatnya pasti akan segera jatuh hati. Kuakui dia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna yang Tuhan kirimkan untuk menemani hariku yang suram. Yeah, banyak orang yang mengira bahwa kami berdua menjalin sebuah hubungan khusus, namun sebenarnya kami hanyalah sepasang manusia yang dipertemukan untuk saling menghibur satu sama lain.

Aku memang pernah tertarik dengan lelaki ini tapi pengakuan tak terduganya telah mengejutkanku. Aku telah melihat banyak gadis menangis mendengar pengakuannya, kalau dipikir lagi mungkin aku satu – satunya gadis yang pernah tertarik dengannya dan hingga sekarang masih akrab dengannya. Sebuah hiburan bagiku bisa berjalan dengan lelaki rupawan seperti Sam, yang mana akan membuat gadis manapun iri padaku.

“Heh, ayo pulang. Kau sudah senang sekarang, mission complete. Ayo,” Sam segera menarik tanganku pergi.

“Tapi aku belum nemu cowok ganteng disini,” ucapku sambil menyejajarkan langkahku dengan langkah lebar Sam.

“Kapan – kapan bisa, inget besok kamu harus temenin aku hunting foto buat pameran. Ok!” ucapnya ketika kami sudah didalam mobil.

“Terserahlah. Tapi makasih ya buat hari ini,” kataku sambil memasang seatbelt.

Sam hanya bergumam dan segera mengemudikan mobil hitamnya menuju jalanan.

***

“Dagumu agak naik sedikit. Ya! Diem ya.. 1.. 2.. 3.. Sipp, cakep”

Aku berakhir menjadi model dadakan si Sam, memang sial benar anak ini.

“Tanganmu sekarang pegang lengan kursi, yupp, ekspresimu tolong.. Mantab,” ia kembali memberi komando.

“Aaah, udah. Aku capek,” aku berteriak kesal lalu membaringkan tubuh diatas kursi.

Dari sudut mataku aku melihat Sam datang menghampiriku.

“Lis, maafin aku,” katanya.

“Iya memang. Habis manis sepah dibuang. Ciih,” emosiku telah diujung tanduk.

“Apa maksudmu?” nada ucapannya mulai naik.

“Ternyata emosimu bisa terpancing juga ya?”

“Bagaimanapun aku ini lelaki tulen bodoh!”

Aku diam, malas menanggapi celotehan tak berarah ini. Setelah beberapa saat, kurasa manusia itu luluh juga, I’m win! Bisa dilihat dari bagaimana cara dia meletakkan kameranya perlahan lalu melepas kacamatanya dan memijat dahinya.

“Oke, maafin aku kalau ngotot banget hari ini. Kamu taukan seberapa besar keinginanku untuk buat pameran itu? Aku harap kamu mengerti,” ia berkata sambil menatapku dari samping.

“Kamu tau apa yang membuat orang – orang curiga kita sedang menjalin hubungan atau tidak?Sebenarnya kayak begini. Kita berdua kalau dilihat seperti pasangan beneran, liat aja dari cara kamu liat aku kayak gitu. Gimana orang gak salah sangka?” kataku dan menghela nafas diujung kalimat.

Matahari hampir habis dimakan bumi dan kami berdua masih duduk bersisian dengan pikiran masing – masing.

“Aku rasa mulai sekarang kita harus ngasih batas – batasan, deh. Jujur aja aku risih dengan anggapan orang tentang kita, tentang aku. Aku capek,” ucapku sambil memainkan jari.

Bisa kurasakan dengan indra perabaku bahwa ia sedang menggenggam tanganku saat ini lalu cepat – cepat kulepas tangannya dariku dan berdiri.

“Aku rasa kali ini udah melebihi batas, maaf. Aku pulang,” ucapku seraya membalikkan badan pergi.

Bukan Sam namanya kalau ia menyerah begitu saja dan aku sudah menduganya. Ia menarikku untuk berhadapan dengannya dan mendorongku hingga kepembatas yang menghadap langsung ke danau. Aku terkejut, responnya lebih dari yang kuharapkan.

“Kalau kamu ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman.Aku sanggup”

Apa yang salah dengan lelaki ini? Aku merasa tidak nyaman dalam posisi ini sehingga kudorong tubuhnya kedepan, namun apa daya bagaimanapun ia tetaplah lelaki.

“Tatap mataku”

Aku menuruti permintaannya.

“Sejak kamu putus secara paksa dengan pria brengsek itu aku berjanji untuk selalu menjaga kamu. Lalu aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat ketika aku melihatmu tersenyum”

Hei, apa – apaan ini?

“Kamu telah mengubahku, ndah. Kau membuatku menjadi lelaki normal. “

Aku membeku dan speechless. Apa sebenarnya yang telah aku lakukan sehingga ia bisa menjadi seperti ini, disisi lain aku bersyukur karena ia telah menjadi lelaki seperti seharusnya. Tapi sepertinya aku telah terlalu tenggelam dalam pikiranku sehingga aku tidak menyadari betapa dekatnya ia sekarang denganku, ditambah dengan kedua tanganku yang entah sejak kapan sudah dalam genggamannya. Aku mencoba berkelit namun hasilnya nol dan ia dengan lembut mengecup dahiku lalu melangkah mundur 2 langkah.

“Aku sayang kamu, Liza. Taukah kamu pameran fotoku nanti kutujukan untuk siapa?”

Sepertinya aku tau jawabannya.

“Kamu”

Gotcha! Benar.

“Makasih buat hari ini, maaf buat kamu capek. Ayo pulang,” katanya sambil meraih tanganku.

Kulepas genggaman tangannya, “Iya sama – sama. Aku bisa pulang sendiri malam ini.”

Ia menghela nafas dan mengangguk.

“Baiklah, jika itu keinginanmu”

Segera setelah ia mengiyakan maksudku, aku langsung lari terbirit – birit. Aku melihat sisi lain dari sobatku hari ini. Rupanya malam ini akan menjadi malam yang kelam karena aku sedang terlalu panik untuk melihat jalan dan menabrak seseorang.

“Ma……af,” ucapan maafkan terbata ketika melihat siapa yang kutabrak.

Orang itu adalah teman Sam yang nan-rupawan tempo hari—Joseph!

“Hai!” Sapaku dengan level semangat terlampau tinggi.

Joseph menatapku dengan tatapan gusar, mungkin dia merasa terganggu dengan tubrukanku tadi.

“Aah, maaf tadi…”

“Oke. Aku kesana dulu ya?”

Aku terhenyak ketika mendengar ucapannya yang sedikit ketus dan langsung melengos tanpa sedikitpun menatapku. Segala image baik yang selama ini tumbuh tentang dia hilang seketika. Pesona dan cahaya yang muncul kala itu hilang. Apa sebenarnya yang terjadi?

***

Deringan panggilan masuk yang tak henti – hentinya meneror tidurku yang baru 3 jam, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan perubahan 360 derajat baik Sam maupun Joseph. Dengan selimut masih meliputi tubuh aku meraih ponselku yang kuletakkan di nakas samping tempat tidur. Aku melihat nama yang tertera dilayar ponsel ketika akan menjawab telepon. Sam.

“Halo?” sapaku dengan suara parau khas orang bangun tidur.

“Aku sakit, Liz,” lalu terdengar suara benda terbanting keras diujung sana dan hubunganpun terputus.

Aku mengubah posisi tubuhku menjadi duduk tegak setelah hubungan terputus, ada apa lagi dengan bocah itu. Demi Tuhan, tanpa menyempatkan untuk mandi terlebih dulu aku segera bergegas berdiri menuju apartemennya. Syukurlah jalanan hari ini sedang cukup lengang sehingga perjalanan dari apartemenku menuju apartemennya hanya membutuhkan waktu 20 menit saja plus belanja.

Ketika hanya beberapa kamar lagi menuju kamarnya aku menemukan pintu kamarnya terbuka, aku segera mempercepat langkahku dengan menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan untuknya. Dia bukan tipe lelaki yang teledor macam ini.

“Aku gak ngerti kenapa kamu berubah, Sam yang aku kenal bukanlah orang yang aku lihat sekarang,” nada suaranya sedikit turun.

Tunggu, sepertinya aku mengenal suara itu.Joseph! Iya, aku yakin itu suara Joseph.

“Aku sayang kamu”

Seluruh kantong plastik yang kubawa terjatuh dan isinya berceceran. Cepat – cepat kukemasi barang – barang yang berceceran sebelum 2 orang yang sedang berseteru didalam menyadari kedatanganku. Namun sepertinya aku terlambat.

“Permisi,” seseorang membuka pintu dan langsung melewatiku.

Ketika melihat punggungnya, iya benar itu Joseph. Setelah barang – barang yang kubeli telah masuk dalam plastik kembali, kuputuskan untuk memasuki kamarnya. Aku melihat Rafa duduk termenung dikursi favoritnya yang menghadap jendela, kulangkahkan kakiku masuk lalu menutup rapat pintu dan menaruh barang belanja diatas counter dapur. Begitu melihat wajahnya aku tak melihat sedikitpun tanda – tanda orang sakit disana.

“Kamu sakit?” Ujarku.

Ia mengangguk.

“Tapi mukamu gak keliatan kayak orang sakit?” Ujarku kembali seraya menyentuh dahinya kalau – kalau dia panas tapi tidak sama sekali.

“Kamu bohong. Pokoknya habis aku masak aku pergi ya, aku ingin istirahat”

Aku segera melarikan dari situ dan menuju dapur, suasana sedang tidak baik. Namun, langkahku terhenti.

“Aku memang sakit. Sakit hati, sakit pikiran, sepertinya kau tidak akan mengerti”

Aku berbalik menghadap kearahnya sementara ia sekarang masih dalam posisi duduk dan menatapku.

“Kamu dengarkan? Semua?”

Aku menggeleng.

“Lalu apa yang kamu dengar?”

Jantungku berdetak cepat, ragu akan mengatakan kalimat itu atau tidak.

“Aku sayang kamu,” kataku sambil menatap jari – jari kakiku.

“Kamu suka Josephkan?”

Aku terbelalak dan mendongak. Ia tersenyum nanar.

“Sebenarnya selama ini aku tidak sepenuhnya jujur padamu”

Stop! Tolong jangan katakan!

“Memang benar aku adalah gay dan fakta aku single sebenarnya bohong”

Siapapun tolong bawa aku pergi.

“Sesaat setelah kita dekat sebenarnya aku telah menjalin hubungan dan orang itu adalah Joseph”

Selesai sudah riwayatku.

“Tapi setelah hari – hari kujalani bersamamu sebagai sahabat yang terpisahkan membuat pandanganku tentang perempuan mulai berubah. Kau adalah alasan mengapa aku berubah”

Aku terdiam dan membeku tak tau harus bereaksi bagaimana.

“Aku memutuskan Joseph karena aku ingin memulai kehidupanku sebagai lelaki normal bersamamu”

Oke, sekarang rasanya seperti sedang akan dilamar. Jantungku berdetak semakin cepat dan keringat dingin mulai muncul. Aku melihat ia mengambil beberapa tissue dan memberikannya padaku. Oh Lord, ia bahkan tau aku sedang gugup. Ketika aku sedang mengalihkan perhatianku pada keringatku yang merajalela ia memelukku dan aku merasakan kehangatan disana, pelukan berbeda yang biasanya ia berikan padaku. Ia mengelus bagian belakang kepalaku sedangkan aku membeku diantara lingkup tangannya.

“Tolong terima aku, aku ingin menghapus semua laramu karena lelaki brengsek itu”

“Sudah aku bilang berapa kali untuk tidak menyebutnya lelaki brengsek?!” Ujarku dengan nada tinggi dan berusaha keluar dari dekapannya namun nihil.

“Dia memang pria brengsek yang berani membuat sahabatku terluka dan membuatku ingin melindunginya tanpa menyadari bahwa hal ini akan mengubah perasaanku juga,” aku terhenyak ketika mendengarnya bicara demikian.

“Aku harus pulang, maaf,” aku segera meraih tasku dan beranjak keluar selepas pelukannya mengendor.

***

Aku menatap agendaku setelah beberapa hari hidup seperti zombie dan menyadari betapa banyak pekerjaanku yang masih pending akibat masalah ini. Aku seperti zombie tanpa Sam yang selalu meracau tentang hal – hal yang tidak jelas sementara aku bekerja mengejar deadline, dia tidak ada disini. Aku menghela nafas dan menyadari waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Aku menyalakan televisi dan menemukan liputan mengenai sebuah pameran foto yang diselanggarakan kemarin.

“Siapakah wanita yang hampir mengisi seluruh foto yang Anda pamerkan disini?”

“Dia adalah wanita yang telah mengubah saya menjadi sosok yang lebih baik saat ini”

Sam?

“Wah, dia pasti adalah sosok wanita yang hebat, bukan?

Ia tersenyum simpul.

“Lalu foto cincin yang ada dibelakang ini telah dibeli dengan harga tinggi bukan? Bagaimana perasaan Anda?”

Kamera berganti menyorot lukisan dibalik punggung Sam.

“Saya sangat bersyukur karena ada orang yang tertarik dengan hasil jepretan saya, sebenarnya cincin itu adalah hasil jepretan cincin yang akan saya berikan pada wanita yang telah mengubah hidup saya”

“Benarkah?” Mata Si wartawan terlihat berbinar karena mendapat berita menarik.

“Awalnya saya akan melamar wanita itu sekarang, disini, didepan lukisan ini, namun sekarang diantara kami sedang terjadi sebuah konflik”

“Wah, sangat disayangkan. Semoga hubungan Anda cepat membaik. Lalu bagaimana dengan lukisan ini?”

Aku sudah tidak memperhatikan tayangan tersebut, aku hanya melihat wajah Rafa yang tersenyum disana. Aku ikut tersenyum ketika kamera mengclose up wajahnya ketika tersenyum. Aku turut gembira karena ia telah menyukai wanita kembali, hanya saja aku tidak bisa menerima wanita itu adalah aku. Aku takutt semua kenyataan pahit yang telah kulewati dengan tertatih kembali lagi, yaitu ketika menjalin hubungan dengan sahabat lawan jenismu dan ia meninggalkanmu hanya demi uang. Aku tahu Rafa bukanlah tipe orang seperti itu, namun timbul ketakutan setiap kali memikirkan bayangan aku menjalin hubungan dengannya. Aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku, aku ingin ia tetap disisiku sebagai sahabat. Namun, sepertinya kenyataan tidak mengijinkan. Semoga waktu dapat memulihkan segalanya seperti awal kita bertemu dulu.

-SELESAI-

***

Oke. Entah kenapa aku bisa nulis sebuah cerita yang ada unsur suka sesama jenis seperti ini, aku gak pernah berpikir untuk bikin cerita macam ini dan ide cerita terus ngalir ketika aku nulis cerita ini. Umm, dan aku gak ngerti kenapa posternya begitu dark dan terkesan horror gitu, waktu bikin poster juga tanganku bergerak begitu aja.

So, gimana pendapat kalian tentang ceritaku? Berbagi dong sama ku.. Ditunggu komennya.. Oya silahkan check galery Truth disini (x) untuk mengembangkan imajinasi kalian. See you in my next post😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: